Pakar ITB Sebut Faktor Cuaca Bisa Jadi Pemicu Blackout Sumatera

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 30 Mei 2026 – 19:33 WIB

Pedagang menyiapkan minuman untuk pembeli saat pemadaman listrik total di Nagari Kasang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (23/5/2026). (Foto: ANTARA//Fitra Yogi/agr).

Pedagang menyiapkan minuman untuk pembeli saat pemadaman listrik total di Nagari Kasang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (23/5/2026). (Foto: ANTARA//Fitra Yogi/agr).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemadaman listrik total atau blackout yang mendera sejumlah daerah di Sumatera beberapa waktu lalu, diduga akibat kuatnya tekanan mekanis dari angin kencang ke jaringan transmisi. Khususnya di titik sambungan kabel, atau mid span jointing.

Pakar Kelistrikan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Darwanto, menilai, faktor cuaca memiliki peran besar terhadap terjadinya blackout di Sumatera. Mengingat karakteristik gangguan yang terjadi mengarah kepada tekanan mekanis di area sambungan konduktor transmisi.

“Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujar Djoko, Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Investigasi awal dari gabungan Bareskrim, Puslabfor dan PLN menyebut adanya tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi. Yakni, stress thermal akibat cuaca, faktor di area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Menurut Djoko, masyarakat kerap menilai kondisi cuaca dari apa yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, ketinggian konduktor transmisi dilalui angin dengan kecepatan jauh lebih tinggi. Sehingga bisa memicu osilasi kabel secara terus-menerus.

“Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” kata Djoko.

Ia menjelaskan, pergerakan berulang akibat terpaan angin dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi.

Terlebih, titik yang mengalami putus diketahui berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area tersebut merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus.

Menurutnya, titik sambungan memang menjadi salah satu area yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi karena menerima kombinasi pengaruh getaran, perubahan temperatur, serta distribusi tekanan ketika kabel bergerak akibat angin.

“Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” ujarnya.

Ia juga menilai hasil inspeksi thermal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak otomatis bertentangan dengan terjadinya blackout.

Sebab, gangguan akibat kombinasi cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu memunculkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal rutin menggunakan drone.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut, karena pengujian laboratorium dilakukan terhadap bagian kabel yang mengalami gangguan.

Sebuah sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, kata Djoko, jika terjadi gangguan di satu jalur transmisi strategis saja, dapat dengan cepat berkembang menjadi berantai. Karena, pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan.
“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang