Nilai Tukar Rupiah tak Kunjung Berotot, Analis AEPI Curigai Ada Spekulan Bermain

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 22 Mei 2026 – 05:09 WIB

Kurs rupiah berhasil menguat tipis di penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (20/12/2024). Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.190 per dolar AS . (Foto: Antara/Rivam Awal Lingga)

Kurs rupiah berhasil menguat tipis di penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (20/12/2024). Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.190 per dolar AS . (Foto: Antara/Rivam Awal Lingga)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendorong ekspor nasional.

Menurut dia, sepanjang kuartal I-2026 Indonesia masih mencatat surplus perdagangan lebih dari US$5 miliar. Surplus terbesar berasal dari sektor komoditas nonmigas.

“Sektor komoditas mencatat surplus sekitar US$10 miliar. Memang ada defisit perdagangan migas sekitar US$5 miliar, tetapi masih bisa ditutupi surplus nonmigas,” kata Salamuddin di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Ia mengakui ada spekulan yang memanfaatkan pelemahan rupiah untuk meraup keuntungan. Namun, menurut dia, kelompok tersebut bukan pemain utama dalam pasar valuta asing domestik.

“Spekulan itu termasuk pemain kecil dalam struktur penggunaan dolar AS. Kebutuhan dolar terbesar justru berasal dari perusahaan-perusahaan besar untuk membeli minyak mentah, batu bara, dan minyak sawit (crude palm oil/CPO),” ujarnya.

Salamuddin menilai banyak perusahaan dalam negeri justru diuntungkan dari pelemahan rupiah karena pendapatan mereka berbasis dolar AS, sementara sebagian besar kewajiban pajak dibayarkan dalam rupiah.

“BUMN besar umumnya juga sudah mengamankan kebutuhan dolarnya sejak jauh-jauh hari. Jadi ketika dolar AS naik, mereka sudah punya cadangan untuk membeli minyak mentah atau batu bara yang masih diperdagangkan dalam dolar AS, baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.

Ia menambahkan, kelompok yang paling terdampak ialah importir minyak dan industri yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, sebagian besar pelaku usaha besar dinilai telah melakukan lindung nilai (hedging) terhadap kebutuhan dolar AS mereka.

“Jadi tidak ada kerugian besar akibat pelemahan rupiah. Selain itu, industri pengolahan juga masih mencatat surplus pada kuartal I-2026,” ujar Salamuddin.

Pada penutupan perdagangan pasar spot, Kamis (21/5), rupiah berada di level Rp17.667 per dolar AS atau melemah 0,07 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.654 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pelemahan rupiah terjadi seiring penurunan sejumlah mata uang regional. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,46 persen, disusul baht Thailand 0,23 persen, dan dolar Singapura 0,09 persen.

Sementara itu, yen Jepang melemah 0,04 persen dan yuan China turun 0,02 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, rupee India menguat 0,43 persen, peso Filipina naik 0,21 persen, dolar Taiwan menguat 0,17 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,04 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang