Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu akhirnya membuka tabir mengenai kondisi kesehatannya yang selama ini menjadi teka-teki. Dedengkot Zionis berusia 76 tahun itu mengonfirmasi bahwa dirinya didiagnosis menderita kanker prostat dan telah menjalani serangkaian perawatan intensif secara diam-diam.
Pengumuman tersebut disampaikan bersamaan dengan rilis laporan medis tahunannya pada Jumat (24/4/2026). Netanyahu mengakui bahwa dirinya sengaja menunda publikasi laporan tersebut selama dua bulan dengan alasan keamanan nasional. Ia khawatir, informasi mengenai kelemahan fisiknya akan dipelintir dan dimanfaatkan sebagai bahan propaganda oleh musuh bebuyutannya, Iran.
Kronologi Diagnosis dan Operasi Senyap
Berdasarkan laporan medis yang dikutip dari CNN, Sabtu (25/4/2026), perjalanan medis Netanyahu bermula pada Desember 2024. Saat itu, ia menjalani operasi yang diumumkan secara resmi sebagai penanganan pembesaran prostat. Namun, pemeriksaan patologi lanjutan pasca-operasi mengungkap fakta yang lebih serius: dokter menemukan tumor ganas berukuran kurang dari satu sentimeter.
Meskipun tumor tersebut masuk kategori ganas, tim medis menyatakan bahwa kanker berada pada tahap sangat awal. Kantor Perdana Menteri menyertakan dua pucuk surat keterangan dokter yang menegaskan bahwa tumor itu merupakan lesi kecil tanpa penyebaran atau metastasis ke organ lain.
Terapi Radiasi Terarah
Demi membasmi sel kanker tersebut, Netanyahu menjalani terapi radiasi terarah selama kurang lebih dua setengah bulan. Prosedur ini dilakukan di sela-sela kesibukannya memimpin Israel, tanpa terendus oleh publik luas hingga pengobatan tersebut dinyatakan tuntas.
“Terima kasih kepada Tuhan, saya dalam kondisi sehat. Saya memiliki masalah kecil pada prostat yang telah ditangani sepenuhnya,” tulis Netanyahu melalui akun media sosial pribadinya. Ia menegaskan bahwa terapi tersebut berhasil melenyapkan tumor dari tubuhnya.
Rekam Jejak Medis Sang PM
Masalah prostat ini menambah panjang daftar intervensi medis yang dijalani Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli 2023, ia sempat menjalani pemasangan alat pacu jantung menyusul gangguan irama jantung yang membuatnya jatuh pingsan.
Tak berhenti di situ, pada Maret 2024, ia kembali naik ke meja operasi untuk menangani hernia—gangguan yang juga pernah ia alami sekitar satu dekade sebelumnya. Meski didera berbagai masalah kesehatan, Netanyahu hingga saat ini tetap bersikukuh menjalankan tugasnya di tengah tensi geopolitik Timur Tengah yang terus memanas.













