Nasib Pavel Durov: Dulu Ditekan, Kini Telegram Dituding Jadi Alat Intelijen Barat oleh Rusia

Hubungan antara Kremlin dan ‘anak emas’ teknologi Rusia, Pavel Durov, nampaknya telah mencapai titik nadir. Pendiri Telegram tersebut kini resmi masuk dalam radar penyelidikan pidana otoritas Rusia. Tuduhannya tak main-main: Durov dituding membantu aktivitas teroris dan membiarkan platformnya menjadi instrumen intelijen bagi Ukraina serta negara-negara Barat.

Laporan yang dihimpun dari Engadget, Rabu (25/2/2026), menyebutkan bahwa media-media pelat merah Rusia kini gencar melancarkan serangan opini terhadap Durov. Telegram dianggap telah bertransformasi menjadi alat spionase berbahaya di tangan NATO dan ‘rezim Kiev’ untuk merongrong kedaulatan Rusia.

Ironi Pemblokiran: Senjata Makan Tuan?

Langkah hukum ini menyusul kebijakan ekstrem Rusia yang telah memblokir akses Telegram dan WhatsApp di wilayahnya beberapa hari lalu. Tujuannya terbaca jelas: memaksa warga beralih ke Max, aplikasi pesan milik negara yang tidak terenkripsi dan mudah dipantau oleh otoritas.

Namun, kebijakan ini justru menjadi buah simalakama. Gelombang kritik datang dari kalangan pro-Rusia sendiri, terutama para personel militer di garis depan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tentara Rusia sangat bergantung pada Telegram untuk berkomunikasi dan mengoordinasikan pergerakan tempur mereka.

Tak hanya di medan perang, otoritas di wilayah perbatasan bahkan menggunakan Telegram sebagai kanal utama peringatan serangan drone dan rudal bagi warga sipil. Bahkan, ironisnya, juru bicara kepresidenan Rusia pun diketahui masih sering menggunakan aplikasi ini untuk berinteraksi dengan awak media.

Tuduhan FSB: Sadap Data hingga Intimidasi

Media pemerintah Rossiiskaya Gazeta, dengan mengutip informasi dari Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), menambahkan bumbu tuduhan yang kian berat. Telegram diklaim melakukan penyadapan data lokasi pengguna, menjual informasi rahasia ke pihak asing, hingga melakukan intimidasi terhadap keluarga tentara Rusia.

Hingga saat ini, Pavel Durov masih memilih bungkam terkait penyelidikan pidana tersebut. Namun, dalam pernyataan sebelumnya pasca-pemblokiran, Durov dengan tegas menyebut bahwa pembatasan akses Telegram adalah akal-akalan Moskow untuk menggiring rakyat masuk ke dalam sistem pengawasan dan sensor politik yang totalitas.

Jejak Panjang Sang Pembangkang

Perseteruan Durov dengan Rusia bukanlah barang baru. Sosok di balik jejaring sosial VK ini sebelumnya sudah ‘terusir’ dari tanah kelahirannya setelah menolak menyerahkan data pengguna kepada intelijen Rusia. Ia memilih menjual kepemilikan sahamnya dan meninggalkan Rusia demi menjaga integritas enkripsi yang ia yakini.

Kini, di tengah kecamuk perang informasi, Durov kembali menjadi target utama. Rusia nampaknya ingin memastikan bahwa tidak ada lagi ‘celah komunikasi’ yang berada di luar kendali mereka, meskipun harus mengorbankan efisiensi komunikasi pasukannya sendiri di medan perang.