Mudik Gratis Pemprov Jateng 2026 Dimulai, 325 Unit Bus hingga Kru Jalani Pemeriksaan Ketat

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan kesiapan armada dan awak kendaraan dalam program Mudik dan Balik Rantau Gratis 2026. Sebanyak 325 unit bus yang akan mengangkut belasan ribu perantau dipastikan telah melalui serangkaian pemeriksaan, mulai dari kelengkapan administrasi hingga kelayakan kendaraan dan kesehatan pengemudi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Risturino, mengatakan seluruh armada dan kru telah dipersiapkan sejak jauh hari sebelum keberangkatan pemudik.

“Pengemudi, kru bus, sampai armada telah siap dipakai untuk Mudik Gratis nanti,” kata Risturino, Minggu (15/3/2026).

Ia menjelaskan, Dinas Perhubungan Jawa Tengah telah menetapkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan otobus yang terlibat dalam program yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen tersebut.

Setiap bus yang dioperasikan diwajibkan memiliki izin operasional angkutan pariwisata dari Kementerian Perhubungan, kartu pengawasan yang masih berlaku, serta dokumen kendaraan seperti STNK dan pajak yang masih aktif. Selain itu, armada juga harus telah melunasi iuran asuransi melalui PT Jasa Raharja.

Pemudik membawa barang bawaan saat bersiap menaiki bus program Mudik Gratis Jawa Tengah di Jakarta. Sebanyak 325 bus disiapkan untuk melayani perjalanan pulang kampung para perantau. (Foto: Dok Pemprov Jateng).
Pemudik membawa barang bawaan saat bersiap menaiki bus program Mudik Gratis Jawa Tengah di Jakarta. Sebanyak 325 bus disiapkan untuk melayani perjalanan pulang kampung para perantau. (Foto: Dok Pemprov Jateng).

Dari sisi teknis, seluruh kendaraan yang digunakan harus lulus uji kendaraan bermotor (KIR) serta ramp check untuk memastikan kondisi kendaraan tetap layak selama masa angkutan Lebaran. Bus yang telah lolos pemeriksaan akan diberi stiker khusus dari instansi terkait sebagai penanda telah memenuhi standar keselamatan.

Risturino menambahkan, armada yang digunakan minimal keluaran tahun 2016 dengan kondisi mesin dan karoseri yang baik. Fasilitas seperti pendingin udara (AC) juga dipastikan berfungsi dengan baik demi kenyamanan penumpang.

Selain itu, setiap bus diwajibkan dilengkapi berbagai perangkat keselamatan, di antaranya kotak P3K, alat pemadam api ringan (APAR), palu pemecah kaca, serta pintu darurat untuk mengantisipasi kondisi darurat selama perjalanan.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap pengemudi dan kru bus. Mereka diwajibkan memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang sesuai, memiliki pengalaman minimal dua tahun, serta memahami rute perjalanan yang akan dilalui.

“Kondisi kesehatan juga diperiksa. Bahkan pada hari pemberangkatan pukul 06.00 akan dilakukan tes urine kepada pengemudi dan kru bus untuk memastikan mereka tidak terpengaruh narkoba atau alkohol,” ujarnya.

Risturino mengatakan, program Mudik Gratis tersebut merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kepada para perantau, khususnya yang bekerja di sektor informal di wilayah Jabodetabek.

“Program ini membantu warga Jawa Tengah yang merantau agar bisa pulang kampung dengan transportasi yang pasti, gratis, aman, dan nyaman,” kata dia.

Dalam pelaksanaan program Mudik Gratis 2026, Pemprov Jateng menyiapkan dua moda transportasi darat, yakni bus dan kereta api.

Sebanyak 325 unit bus dengan kapasitas 16.186 penumpang akan diberangkatkan pada 16 Maret 2026 dari area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi dan Masjid At-Tin di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menuju 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Selain itu, sebanyak 23 unit bus dengan kapasitas 1.133 penumpang juga akan diberangkatkan dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung.

Sementara untuk moda kereta api, disiapkan tiga perjalanan dari Stasiun Pasar Senen dengan total kapasitas 1.288 kursi menggunakan layanan KA Jaka Tingkir dan KA Tawang Jaya, serta satu rangkaian perjalanan tambahan.

Menurut Risturino, program ini diharapkan dapat membantu meringankan beban biaya perjalanan para perantau yang hendak mudik Lebaran.

“Sebagian besar peserta adalah pekerja sektor nonformal. Dengan adanya program ini, penghasilan yang mereka peroleh bisa dibawa pulang ke kampung halaman secara utuh,” ungkapnya.