Meski Hantavirus Tingkat Kematiannya 40 Persen, Epidemolog Ingatkan tak Perlu Panik

Diana Medium.jpeg

Selasa, 5 Mei 2026 – 11:16 WIB

WHO konfirmasi kematian tiga penumpang di kapal pesiar MV Hondius akibat hantavirus. (Foto: AFP)

WHO konfirmasi kematian tiga penumpang di kapal pesiar MV Hondius akibat hantavirus. (Foto: AFP)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Epidemolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman mengatakan hantavirus merupakan penyakit zoonosis akut dengan fatalitas atau tingkat kematiannya bisa sampai 40 persen.

Ia menjelaskan, karakteristik epidemiologis penyakit ini utamanya berasal dari tikus, dan penularannya melalui feses atau urin tikus, juga terkontaminasi karena lingkungan tertutup.

“Ini yang membuat mengapa kapal pesiar menjadi sangat berisiko ya. Tapi secara umum, dia tidak dominan penularan antar manusia. Dan secara gejala dia biasanya demam dengan fase paru akut dan syok. Karena kematiannya tinggi, maka pasien umumnya harus mendapatkan pertolongan di ICU biasanya,” ujar Dicky dalam keterangan yang diterima inilah.com di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Ia menuturkan ada dua kemungkinan epidemiologis, yakni pertama zoonotic exposure yang terbatas. Menurutnya, kapal yang terkontaminasi tikus di pelabuhan atau saat bersandar, sebetulnya risiko klusternya kecil alias tak akan menjadi outbreak besar.

“Tetapi skenario terburuk adalah paparan dari tikus cukup luas di kapal, terlambat didiagnosis dan karena adanya evakuasi ke negara-negara, dikirim ke negara-negara pasti ada risiko kasus impor di negara tersebut. Tapi ingat juga bahwa hantavirus ini bukan penyakit yang penularan antar manusianya tinggi, sehingga tidak seperti COVID-19 atau influenza,” tegasnya.

Oleh karena itu, Dicky meminta publik agar tak terlalu khawatir dengan virus ini. Ia juga menilai virus ini bisa saja masuk ke Indonesia, namun risikonya rendah.

“Dan ini bukan karena kapal pesiarnya ke sini ya, tapi sekarang pun kalau ada penumpang dari kapal laut atau pesawat atau awak kapal laut barang logistik juga bisa memberi jalurnya,” ujarnya.

Meski virus ini tak dapat ditularkan melalui udara dan harus ada kontak langsung dengan tikus, namun peningkatan risiko dapat terjadi utamanya di pelabuhan internasional seperti Tanjung Priok dan di Batam dengan aktivitas tinggi.

Sebetulnya, lanjutnya, Indonesia adalah negara dengan risiko endemik untuk penyakit yang ditularkan melalui tikus ini, seperti leptospirosis dan potensi hantavirus lokal yang under diagnose.

“Masalah utama di kita adalah surveilance hantavirusnya belum kuat, kemudian juga diagnosisnya sering tidak spesifik dan bisa overlap tinggi. Untuk itu ya dalam situasi seperti ini dan selanjutnya, terhadap segala penyakit di kita juga harus diperkuat surveilance dan deteksinya, skrining di pelabuhan dan bandara, travel history juga, simptom adanya demam atau sesak napas akut dan gagal paru harus dicurigai,” ungkap Dicky.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang