Menkeu Purbaya Copot 2 Dirjen dalam Sehari, LPI Duga Kental Unsur Politik

Icon_INILAH GOLD.png

Minggu, 26 April 2026 – 02:09 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pencopotan dua direktur jenderal (dirjen) di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yakni Febrio Nathan Kacaribu dan Luky Alfirman, secara mendadak memunculkan banyak spekulasi. Kuat dugaan adanya muatan politik di balik keputusan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Direktur Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin, mengatakan sulit memahami alasan pencopotan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio N. Kacaribu, dan Dirjen Anggaran, Luky Alfirman.

Karena, kata Ujang, informasi detail hanya diketahui oleh internal Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Namun, pergantian yang terjadi secara tiba-tiba biasanya mengindikasikan adanya persoalan yang serius. “Kalau pergantian mendadak, biasanya memang ada problem. Bisa soal kinerja, bisa juga faktor politik,” kata Ujang kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Ujang, dalam praktik birokrasi, penilaian terhadap pejabat tidak sepenuhnya berbasis kinerja. Ada kemungkinan kombinasi antara faktor internal dan eksternal.

“Kinerja itu dari dalam, sementara politik biasanya datang dari luar. Jadi bisa saja keduanya beririsan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti posisi dirjen yang cukup strategis dalam pengelolaan fiskal negara, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya kepentingan di luar aspek teknis birokrasi.

Meski demikian, Ujang meyakini keputusan Purbaya dalam kerangka penataan internal serta konsolidasi organisasi.

Pergantian pejabat merupakan hal yang wajar dan menjadi kewenangan pimpinan, dalam hal ini Menkeu Purbaya. “Bisa jadi ini bagian dari penataan agar organisasi lebih baik, sekaligus konsolidasi. Itu hal yang biasa dalam birokrasi,” ucapnya.

Terkait dampak, Ujang meyakini tidak akan mengganggu stabilitas kebijakan fiskal. Justru bisa sebaliknya jika pejabat penggantinya lebih kompeten, sehingga perubahan membawa dampak positif. “Kalau penggantinya lebih baik, tentu hasilnya juga akan lebih baik. Saya kira dampaknya tetap positif,” katanya.

Namun, dia mengingatkan pentingnya transparansi tetap menjadi tolok ukur bagi seluruh pejabat negara. Ia mengakui publik kerap kesulitan menilai apakah proses pencopotan dilakukan secara terbuka atau tidak. “Dari luar sulit menilai transparan atau tidak. Tapi selama tujuannya untuk perbaikan dan dilakukan dengan baik, tidak ada masalah,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Purbaya mengumumkan telah mencopot Febrio dan Luky dari posisi Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal serta Dirjen Anggaran pada Selasa (21/4). Dua dirjen dicopot dalam sehari.

Lalu apa alasan dari keputusan tak lazim itu? Purbaya hanya menyebut rotasi rutin, seolah ada yang ditutupi dari alasan yang sebenarnya. “Itu hanya proses biasa, berapa tahun diputar. Jadi, nggak ada yang istimewa dari itu,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Saat ditanya mengenai isu konflik internal, Purbaya mengakui adanya dinamika dalam organisasi, meski bukan menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. “Iya dan tidak. Iya, ada sedikit (pengaruh konflik internal), tapi nggak itu saja. Ada yang lain-lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, belakangan beredar sejumlah informasi yang dinilai tidak tepat terkait kondisi Kementerian Keuangan. Di antaranya kabar mengenai kas negara yang disebut hanya mampu bertahan beberapa minggu, hingga isu Saldo Anggaran Lebih (SAL) tersisa hanya Rp120 triliun.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang