Masuk Mei, Rupiah Diprediksi Masih Tetap Loyo

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 1 Mei 2026 – 19:39 WIB

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS ke posisi Rp16.755 pada penutupan hari ini, Selasa (3/2/2026). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS ke posisi Rp16.755 pada penutupan hari ini, Selasa (3/2/2026). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sepanjang pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) semakin melemah ke level Rp17.305/US$, atau turun 1,85 persen terhadap greenback dalam sebulan. Memasuki pekan depan, rupiah diprediksi masih akan tertekan.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Ia menyebut kondisi ini sebagai “badai sempurna” di pasar keuangan.

Dari sisi domestik, sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor global. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pun, menilai struktur pelaporan yang terlalu terpusat, meningkatkan risiko tata kelola.

“Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif,” kata Wahyu, dikutip Jumat (1/5/2026).

Meski rupiah terus melemah, Rektor Perbanas Institute, Prof. Hermanto Siregar, mengimbau masyarakat tetap optimistis bahwa mata uang Garuda akan menguat pada waktunya.

Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak dalam self-fulfilling prophecy terhadap dinamika nilai tukar. Kekhawatiran berlebihan justru dapat memperburuk kondisi jika ekspektasi negatif terbentuk secara kolektif.

“Jangan ditunggu-tunggu angka Rp20.000 itu. Kita cukup menyadari rupiah sedang lemah dan solusinya harus dicari. Salah satunya dengan meningkatkan ekspor agar devisa masuk ke dalam negeri dan memperkuat posisi rupiah,” ujar Hermanto.

Terkait kondisi perbankan, Hermanto menilai industri keuangan nasional masih sehat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran 5 persen.

Selama ekonomi bertumbuh, penyaluran kredit perbankan juga akan tetap berjalan. “Kalau ekonomi kita masih tumbuh positif, artinya seluruh sektor bergerak. Pertumbuhan kredit saat ini masih di kisaran 8 hingga 10 persen. Pertumbuhan dua digit menunjukkan perbankan masih mencetak laba signifikan,” ujarnya.

Ke depan, ia menilai setiap tantangan ekonomi selalu memiliki solusi. Untuk itu, pemerintah perlu memperkuat konsolidasi guna membangun optimisme nasional.

“Agar sektor investasi dan perbankan tetap stabil di tengah tantangan global,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang