Jangan Nekat! Hindari 5 Perilaku ‘Maut’ Ini Saat Berkendara di Jalan Tol

Momen libur panjang akhir tahun selalu menjadi magnet bagi masyarakat untuk bepergian. Meski pilihan transportasi melimpah, kendaraan pribadi tetap menjadi primadona bagi keluarga yang ingin fleksibel menuju destinasi wisata.

Namun, di balik kegembiraan liburan, tersimpan risiko besar di jalan raya. ASTRA Infra bersama Safety Defensive Driving Consultant Indonesia (SDDI) merilis panduan penting bagi para pengemudi. Pesannya tegas: ada lima perilaku berbahaya yang wajib dihindari agar perjalanan tidak berujung tragedi.

“Saat mobilitas tinggi di musim liburan, setidaknya terdapat lima perilaku berbahaya yang harus dijauhi pengendara,” ujar Sony Susmana dari SDDI, dikutip Senin (29/12/2025).

1. Jangan Jadikan Bahu Jalan Tempat Beristirahat

Kesalahan klasik yang sering terjadi adalah berhenti atau parkir di bahu jalan tol. Selain melanggar hukum, tindakan ini sangat berisiko memicu tabrak belakang dan menghambat arus lalu lintas.

Group Chief Technical Officer ASTRA Infra, Rinaldi, menyarankan pengendara untuk selalu masuk ke rest area. Jika penuh, jangan memaksakan diri. “Segeralah keluar di exit tol terdekat. Di luar tol banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk beristirahat dengan lebih aman,” jelasnya.

Bagi pengguna tol Cikopo–Palimanan (Cipali), tersedia fasilitas penginapan ekspres di Rest Area KM 166 A (arah Cirebon) dan KM 164 B (arah Jakarta) untuk istirahat yang lebih maksimal.

2. Stop Mengemudi Agresif

Liburan bukan ajang balap. Mengemudi dengan emosi, menyalip lewat bahu jalan, hingga bermanuver zigzag sangat dilarang. Perilaku agresif hanya akan membuat Anda sulit mengendalikan kendaraan saat menghadapi situasi darurat. Ingat, keselamatan keluarga di dalam mobil adalah prioritas utama.

3. Penyakit ‘Lane Hogger’ di Jalur Kanan

Sering melihat mobil berjalan lambat di jalur kanan? Itulah lane hogger. Perilaku ini sangat berbahaya karena memicu antrean kendaraan dan memancing emosi pengemudi lain. Ingat, jalur kanan hanya digunakan untuk mendahului. Jika Anda tidak sedang menyalip, segera kembali ke jalur kiri atau tengah.

4. Abaikan Jarak Aman, Nyawa Taruhannya

Menempel ketat kendaraan di depan adalah resep jitu kecelakaan beruntun. Sony Susmana menyarankan jarak aman setidaknya 60-80 meter untuk kecepatan 80 km/jam.

Cara termudah? Gunakan metode hitungan 3 detik. Pastikan ada jeda tiga detik antara mobil Anda dengan kendaraan di depan saat melewati sebuah objek statis (seperti tiang listrik atau marka jalan). Jeda waktu ini sangat krusial untuk memberi ruang reaksi bagi otak dan rem kendaraan Anda.

5. Melawan Lelah dan Ancaman Microsleep

Faktor utama kecelakaan di jalan tol adalah kelelahan. Titik lelah biasanya menghantam setelah empat jam mengemudi terus-menerus. Jika dipaksakan, ancaman nyata bernama microsleep mengintai.

Microsleep adalah hilangnya kesadaran atau fokus selama sepersekian hingga 10 detik. Dalam kecepatan tinggi, 10 detik tanpa sadar sudah cukup untuk membuat mobil meluncur tak terkendali ratusan meter.

Kenali tanda tubuh Anda:

  • Mata terasa berat dan sering menguap.
  • Refleks tubuh mulai melambat.
  • Sulit menjaga posisi kepala tetap tegak.
  • Mobil mulai melenceng ke kanan atau kiri secara tidak teratur.

Jika tanda-tanda ini muncul, segera cari tempat istirahat. Jangan pernah menantang rasa kantuk, karena taruhannya adalah nyawa.