Para pekerja pertahanan sipil Lebanon dan tentara bekerja mencari korban di reruntuhan di lokasi bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel sehari sebelumnya di pusat kota Beirut, Lebanon, 9 April 2026. (Foto: Associated Press/Hussein Malla)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan agar Amerika Serikat (AS) tidak membiarkan penjajah Zionis Israel merusak jalur diplomasi yang telah menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan Zionis Israel dan Lebanon, serta dinamika hubungan antara Teheran dan Washington.
Menurut Araghchi, keputusan Pemerintahan Donald Trump untuk terus mendukung Zionis Israel melanjutkan perang berpotensi membawa dampak serius, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Amerika sendiri.
Ia menilai posisi AS sebagai penyokong utama bantuan militer Israel membuatnya ikut menanggung konsekuensi dari konflik berkepanjangan.
“Jika AS ingin merusak perekonominannya dengan membiarkan Benjamin Netanyahu menghancurkan diplomasi, itu pada akhirnya akan menjadi pilihan AS. Kami pikir itu akan bodoh tetapi kami siap untuk itu,” tulis Araghchi melalui platform X miliknya, Jumat (10/4).
Lebih lanjut, Araghchi menyoroti status Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebutnya sebagai buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Ia menilai, serangan terbaru penjajah Zionis Israel di Lebanon semakin memperpanjang daftar dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan negara tersebut.
Dalam konteks diplomasi yang lebih luas, Iran sebelumnya telah menegaskan penghentian serangan di Lebanon menjadi salah satu syarat utama dalam kesepakatan gencatan senjata dengan AS yang diumumkan pada Rabu (8/4/2026).
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator juga menyampaikan hal serupa, menegaskan pentingnya komitmen semua pihak untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya. Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” tegas Araghchi.
Diplomasi di Persimpangan
Pernyataan keras Teheran menunjukkan konflik tidak lagi sekadar kekuatan militer, tetapi telah memasuki fase pertarungan narasi dan legitimasi global.
Iran berupaya menekan AS melalui jalur diplomatik dan opini internasional, sementara Washington dihadapkan pada dilema antara aliansi strategis dan tekanan global untuk menghentikan konflik.
Jika dukungan terhadap Zionis Israel terus berlanjut tanpa batas, bukan hanya stabilitas kawasan yang terancam, tetapi juga kredibilitas diplomasi AS di mata dunia.
Sebaliknya, pilihan untuk mendorong gencatan senjata akan menjadi ujian sejauh mana komitmen Washington terhadap perdamaian global.
Situasi tersebut menempatkan dunia pada titik krusial, di mana keputusan satu negara adidaya dapat menentukan arah konflik, atau justru membuka peluang bagi perdamaian yang lebih luas.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









