Indosat Bongkar Fakta Mengerikan di Balik Ketahanan Siber Indonesia

Indosat Ooredoo Hutchison mengungkap mayoritas perusahaan di Indonesia masih belum siap menghadapi ancaman keamanan siber di tengah pesatnya transformasi digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Deputy Head of Master IT Program Swiss German University Charles Lim mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara percepatan digitalisasi dengan kesiapan perusahaan membangun ketahanan siber atau resilience gap.

“Keadaan perusahaan enterprise di negara kita ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Artinya mereka juga selalu diserang,” kata Lim dalam acara Media Update B2B Strategis Ketahanan Siber Berbasis Bisnis di Kantor Indosat, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).

Lim menjelaskan temuan itu berasal dari whitepaper terbaru bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” yang disusun bersama Indosat Business. Dalam laporan tersebut disebutkan hanya sekitar 11 persen perusahaan di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman siber. Sementara 89 persen lainnya masih berada dalam kondisi rentan.

“Jadi banyak perusahaan itu yang tidak siap ya. Kalau kita lihat di sini, 89 persen itu enggak siap. Ya, berarti mayoritas,” ujarnya.

Menurut Lim, ketahanan siber saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan perlindungan sistem teknologi informasi atau IT semata. Perusahaan juga dituntut memiliki kemampuan untuk tetap bertahan dan menjaga operasional bisnis ketika serangan siber terjadi.

Ia membandingkan konsep tersebut dengan upaya pemerintah membangun ketahanan energi nasional melalui pengembangan biodiesel. Dalam konteks keamanan digital, perusahaan dinilai perlu meningkatkan tingkat kematangan atau maturity dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

“Nah, ini menunjukkan bahwa ada gap yang sangat besar antara yang kita mau capai yaitu ketahanan siber,” katanya.

Selain rendahnya kesiapan perusahaan, Lim juga menyoroti perkembangan AI yang dinilai semakin memperbesar risiko keamanan siber. Menurutnya, AI tidak hanya membantu aktivitas manusia dan bisnis, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mencari celah keamanan baru.

“AI ini memang dipromosikan sangat membantu kita. Tapi membantu kita bukan berarti membantu si attacker juga,” tuturnya.

Ia mengungkapkan teknologi AI kini mampu mendeteksi kerentanan sistem yang sebelumnya sulit ditemukan manusia. Di sisi lain, AI juga digunakan untuk membuat deepfake, manipulasi identitas digital, hingga berbagai modus penipuan siber yang semakin sulit dikenali.

Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman serius, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki sistem keamanan dan respons siber yang kuat. Lim menegaskan perusahaan perlu segera meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman digital sebelum dampaknya semakin besar terhadap operasional maupun kepercayaan publik.

“Nah ini ancaman-ancaman baru itu, itu yang menurut saya luar biasa mengerikan,” ungkapnya.