Presiden Prabowo Subianto berpidato secara khusus di Annual Meeting Davos, World Economic Forum (WEF) 2026 di Congress Hall WEF, Kota Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (Foto: ANTARA/HO-Tim Media Presiden Prabowo Subianto).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kalangan ekonomi cukup yakni akan kehadiran Danantara sebagai akan memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan terhadap perekonomian nasional, khususnya melalui peningkatan produktivitas dan akumulasi modal jangka panjang.
Sesuai pidato Presiden Prabowo Subianto saat memperkenalkan Danantara dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance), Esther Sri Astuti menyebut, Danantara dirancang sebagai dana abadi pemerintah yang berfungsi membiayai sektor-sektor strategis.
Mulai dari pendidikan, ketahanan pangan, dan berbagai inovasi, melalui imbal hasil investasi berkelanjutan. Intinya, bukan pembiayaan rutin dari APBN. “Skema ini mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang,” kata Esther di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan perhitungan, Esther mengatakan, reformasi berbasis Danantara menunjukkan dampak positif yang cukup kuat terhadap indikator makroekonomi. Di mana, Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat tajam di fase awal reformasi dan mencapai hampir tiga persen di atas baseline.
Dalam jangka panjang, menurutnya, pertumbuhan PDB bakal berangsur konvergen dan stabil di kisaran dua persen. Ini mencerminkan efek pertumbuhan yang persisten, bukan lonjakan sementara.
“Pertumbuhan itu, terutama didorong peningkatan stok kapital, serta penurunan pajak modal dan kenaikan produktivitas, sehingga mempercepat akumulasi modal hingga mendekati puncak tiga persen, yang menunjukkan proses kapital yang kuat,” terangnya.
Dari sisi konsumsi, kata dia, Indef mencatat konsumsi agregat meningkat secara bertahap hingga 1,5 persen, seiring dengan kenaikan pendapatan riil dan produktivitas.
“Pola gradual ini, konsisten dengan keputusan konsumsi antartemporal rumah tangga. Namun, dalam jangka pendek terdapat penyesuaian konsumsi sebagai konsekuensi dari realokasi sumber daya menuju investasi produktif,” terang Esther.
Sementara itu, lanjutnya, tenaga kerja tercatat mengalami penurunan moderat sekitar 0,8 persen akibat efek substitusikerjaleisuresure. Kondisi itu terjadi ketika peningkatan produktivitas dan upah riil memungkinkan rumah tangga memiliki fleksibilitas alokasi waktu yang lebih besar.
Meski demikian, Indef menilai dinamika tersebut tidak mengganggu kinerja ekonomi secara keseluruhan karena pertumbuhan yang dihasilkan bersifat productivity driven.
Di sisi upah, peningkatan total factor productivity (TFP) mendorong kenaikan produktivitas marjinal tenaga kerja yang pada akhirnya diterjemahkan menjadi upah riil yang lebih tinggi.
Produktivitas yang meningkat juga memperbesar pendapatan dan keuntungan perusahaan, sehingga memperluas kapasitas dunia usaha dalam memberikan kompensasi yang lebih baik kepada pekerja.
Dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif, kondisi ini mendorong perusahaan menawarkan upah lebih tinggi guna mempertahankan tenaga kerja terampil. Ditegaskan bahwa manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola.
“Manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek, dan disiplin fiskal,” ujar dia.
Selain tu, kata Esther, Indef menyoroti pentingnya kebijakan pelengkap untuk mengelola dampak distribusional yang berbeda antar kelompok pendapatan.
Program sosial yang bersifat terarah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat meredam dampak jangka pendek, sekaligus memperkuat legitimasi reformasi.
“Program sosial seperti MBG berpotensi meredam dampak jangka pendek dan memperkuat legitimasi reform,” katanya.
Informasi saja, Presiden RI Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Prabowo mengatakan, selain perdamaian dan stabilitas, pertumbuhan ekonomi juga mensyaratkan tata kelola negara dan pengelolaan modal yang efisien, terutama dalam hal alokasi dan realokasi investasi. “Pada Februari lalu, kami membentuk sovereign wealth fund kami, Danantara Indonesia,” kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menjelaskan, BPI Danantara merupakan energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia menjadi lebih baik. Khususnya dalam mengelola aset BPI Danantara sebesar 1 triliun dolar AS.














