IHSG Dibuka Memerah, Investor ‘Wait and See’ Keputusan BI Rate

Ikhsan Medium.jpeg

Selasa, 19 Mei 2026 – 11:36 WIB

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (Foto: Antara/Putra M. Akbar)

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (Foto: Antara/Putra M. Akbar)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Selasa (19/5/2026) di zona merah. Pelaku pasar cenderung menahan diri (wait and see) mencermati arah kebijakan suku bunga acuan yang akan diputuskan oleh Bank Indonesia (BI).

IHSG dibuka melemah tipis 0,03 poin atau 0,00 persen ke posisi 6.599,21. Sejalan dengan indeks acuan, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga tergelincir 0,60 poin atau 0,09 persen ke posisi 650,49.

“Untuk hari ini, kami perkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif pada kisaran 6.400 hingga 6.700,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajian resminya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Dilema Suku Bunga BI dan Tekanan Rupiah

Dari dalam negeri, fokus utama pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa (18/5/2026) hingga Rabu (19/5/2026). Tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah memicu spekulasi kuat bahwa bank sentral akan mengerek BI-Rate.

Langkah menaikkan suku bunga ini dipandang sebagai obat penawar untuk meredam depresiasi rupiah sekaligus mendongkrak daya tarik investasi domestik di mata investor asing melalui yield instrumen keuangan yang lebih kompetitif.

Meskipun demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya sempat memproyeksikan bahwa pelemahan rupiah ini bersifat musiman. Berdasarkan data historis, rupiah memang cenderung melemah pada periode April hingga Juni akibat tingginya permintaan dolar AS, dan diperkirakan baru akan kembali bertenaga mulai Juli 2026.

Namun, kebijakan ini bak pisau bermata dua. Kenaikan BI-Rate berisiko membengkakkan biaya pinjaman korporasi yang pada akhirnya dapat menggerus laba bersih emiten serta menekan daya beli masyarakat.

Sentimen Global: Drama Trump-Iran dan Gejolak Komoditas

Dari panggung global, perhatian investor tersedot oleh perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mengubah proposal perdamaian mereka, meski jurang perbedaan pendapat di antara kedua negara masih sangat lebar.

Presiden AS Donald Trump sendiri telah menegaskan penundaan serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari ini, Selasa (19/5/2026). Kendati ada penundaan, kekhawatiran pasar terhadap krisis energi jangka panjang belum sepenuhnya sirna.

Ketakutan akan lonjakan inflasi global akibat isu energi ini memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara, termasuk U.S. 10-year Bond Yield yang merangkak naik ke level 4,601 persen. Tingginya yield obligasi ini menjadi tantangan bagi pasar saham karena dapat mengubah valuasi aset berisiko.

Di sisi lain, pasar komoditas bergerak variatif. Harga minyak mentah dunia justru menguat lebih dari 2 persen meskipun Trump menunda serangan. Sementara itu, harga emas spot menguat 0,2 persen ke level 4.548 dolar AS per troy ons seiring melandainya indeks dolar AS.

Bursa Saham Global dan Regional Bergerak Variatif

Kondisi ketidakpastian ini membuat bursa saham global bergerak tanpa arah yang seragam. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5) kemarin, bursa saham Eropa kompak mendarat di zona hijau dengan penguatan dipimpin oleh indeks DAX Jerman sebesar 1,49 persen dan FTSE 100 Inggris sebesar 1,26 persen.

Sebaliknya, bursa Wall Street di AS bergerak variatif (mixed). Indeks S&P 500 dan Nasdaq tergelincir masing-masing 0,07 persen dan 0,45 persen, sedangkan Dow Jones mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,32 persen ke level 49.686,12.

Kondisi serupa menular ke pasar regional Asia pagi ini. Indeks Nikkei Tokyo terpangkas 0,48 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,26 persen. Namun, indeks Shanghai China berhasil menguat tipis 0,19 persen disusul Straits Times Singapura yang melonjak 0,60 persen.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang