Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan. Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) siang, mata uang Garuda rontok menjauhi level psikologisnya hingga menyentuh angka Rp17.700-an per dolar AS.
Berdasarkan data pasar per pukul 11.02 WIB, rupiah bergerak melemah signifikan sebesar 60 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp17.728 per dolar AS. Posisi ini terjun bebas jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Merespons merosotnya nilai tukar rupiah, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Bank Indonesia (BI) harus segera merumuskan bauran kebijakan yang solid.
“Bank Indonesia melakukan langkah-langkah stabilisasi, satunya di kebijakan moneter, satunya di kebijakan fiskal (oleh Kemenkeu). Sehingga harapannya bauran kebijakan fiskal dan moneter itu menjadi sebuah formulasi untuk melakukan stabilisasi,” ujar Misbakhun saat ditemui wartawan di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dinamika Global Dinamis, DPR Minta Target Rp16.500
Misbakhun menyadari bahwa di tengah ketidakpastian global saat ini, tidak ada kebijakan tunggal yang sifatnya instan atau langsung maksimal. Pemerintah dan bank sentral dituntut untuk terus adaptif dalam melakukan antisipasi pergerakan pasar yang berubah setiap harinya.
Kendati demikian, politisi tersebut meminta BI segera melakukan intervensi pasar guna mengembalikan posisi rupiah agar tidak melenceng terlalu jauh dari asumsi makro yang telah ditetapkan.
“Jadi kalau dari sisi kebijakan kita meminta Bank Indonesia melakukan langkah-langkah yang terukur. Terukur itu jelas parameternya, yaitu dikembalikan ke Rp16.500,” tutur Misbakhun.
Ia menambahkan, penguatan kembali ini tentu membutuhkan proses dan waktu, sama halnya ketika rupiah melemah secara bertahap hingga menyentuh level Rp17.600-an kemarin. Target akhirnya adalah menjaga agar rata-rata pergerakan tahunan rupiah tetap berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Imbas Euforia Konflik Timur Tengah dan Rekor Yield AS
Diwawancarai terpisah, pengamat pasar keuangan sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai keterpurukan rupiah kali ini masih didominasi oleh faktor eksternal. Efek domino dari konflik geopolitik di Timur Tengah terbukti merembet ke berbagai sektor ekonomi global.
“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet ke mana-mana, seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi di AS,” kata Ariston di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Lonjakan ekspektasi inflasi di Negeri Paman Sam tersebut langsung memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) ke level tertinggi baru sepanjang tahun 2026. Tercatat, yield tenor 2 tahun kini bertengger di angka 4,105 persen, tenor 10 tahun di 4,631 persen, dan tenor 30 tahun melesat ke level 5,159 persen.
Tingginya imbal hasil aset safe haven di AS ini otomatis memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang dan mendongkrak keperkasaan dolar AS terhadap mata uang global, termasuk rupiah.
Tekanan Ganda: Impor Minyak dan Musim Dividen
Selain hantaman dari luar negeri, sentimen domestik juga ikut memperberat langkah rupiah untuk bangkit. Melambungnya harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di atas US$100 per barel mulai memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di dalam negeri.
Kondisi ini memaksa Indonesia mengeluarkan dana ekstra besar untuk melakukan impor komoditas energi tersebut. Imbasnya, permintaan korporasi terhadap dolar AS di dalam negeri melonjak tajam.









