Menekraf Resmikan GBTI di PIK (Foto:inilahcom/harris)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Museum Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) di kawasan Pantjoran PIK diproyeksikan menjadi magnet wisata baru, tak hanya bagi pengunjung lokal, tetapi juga turis mancanegara. Kehadirannya diharapkan memperkaya pilihan destinasi berbasis budaya di Pantai Indah Kapuk.
“Ya. So, dari turis dari mancanegara, kita harap mereka bisa datang ke sini dan bisa dengan cara yang menyenangkan dan menarik. So, bisa lewat games, bisa lewat interaksi, engagement, untuk belajar budaya Indonesia dan budaya Tionghoa Indonesia,” ujar CEO Amantara Agung Sedayu Group (ASG) Natalia Kusumo usai peresmian GBTI oleh Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya, bersama jajaran pimpinan ASG.
Natalia menyebut, kehadiran GBTI sejalan dengan kampanye PIK Berbudaya yang telah dicanangkan sejak 2025. Program ini dirancang untuk mengenalkan keberagaman Nusantara melalui perpaduan sejarah, seni pertunjukan, kuliner, dan kreativitas kontemporer dalam satu rangkaian pengalaman di berbagai destinasi PIK, termasuk Pantjoran.
Untuk menghadirkan museum akulturasi budaya Tionghoa–Indonesia tersebut, ASG menghabiskan waktu sekitar dua tahun, dengan proses riset yang digarap serius dan melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi Universitas Indonesia.
“Sebenarnya selain biaya juga waktu dan effort-nya ya. Ini kami sendiri juga dua tahun dimulainya. Kami sangat serius di risetnya. Kami kerja sama dengan akademisi, komunitas. Waktunya yang paling valuable,” ujarnya.
Natalia menuturkan, GBTI sengaja dirancang berbeda dari museum konvensional, terutama dalam pendekatan kepada generasi muda.
“Ya, I think selama ini museum-museum itu mungkin metodenya lebih traditional dan conventional ya. Tapi di sini kamicoba mau berinteraksi dengan generasi muda. So kami lebih lively (hidup), lebih berwarna, lebih dynamic. So, lebih fun,” tuturnya.
GBTI hadir sebagai ruang narasi yang menuturkan perjalanan serta kontribusi masyarakat Tionghoa Indonesia secara lebih dekat dan personal. Kisah yang dihadirkan merekam jejak kehadiran mereka di Indonesia, berikut peran dan sumbangsihnya dalam lintasan sejarah bangsa.
Secara kuratorial, GBTI terbagi dalam dua bagian utama, yakni pameran permanen dan pameran temporer. Pameran permanen mengusung konsep rumah dengan tiga ruang. Ruang Tamu menampilkan konteks historis kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia dan proses pembentukannya.
Ruang berikutnya menyajikan memori masyarakat Tionghoa Indonesia melalui foto, video, serta wawancara, bukan hanya dari narasumber ahli, tetapi juga dari individu biasa yang kisah hidupnya menjadi bagian penting sejarah panjang tersebut.
Sementara Ruang Makan atau Dapur menghadirkan pendekatan yang lebih intim, dengan menampilkan produk budaya serta proses akulturasi yang terjadi, khususnya dalam kehidupan Tionghoa di Indonesia.
Adapun pameran temporer mengangkat tema “Tidak Sama Dengan”. Pameran ini menawarkan pembacaan ulang arsip sejarah budaya Tionghoa Indonesia, di mana foto dan tulisan tidak sekadar diposisikan sebagai dokumentasi, melainkan dimaknai ulang melalui sudut pandang yang berbeda.














