Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo dalam sesi Leaders Summit pada Conference of the Parties ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, Kamis (6/11). (Foto: Official Website COP30)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan sejumlah investor asing mengantre untuk masuk ke pasar karbon Indonesia. Ia bahkan memperkirakan nilai investasi yang berpotensi masuk bisa mencapai puluhan miliar dolar AS.
Hal itu disampaikan Hashim usai peresmian Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai registri nasional untuk memperkuat tata kelola perdagangan karbon yang transparan, akuntabel, serta mendukung interoperabilitas dengan registri karbon internasional di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
“Sangat berbangga karena saya sebagai Utusan Khusus kan sering bertemu dengan pihak-pihak luar negeri, lembaga-lembaga internasional, termasuk investor-investor internasional yang ingin berpartisipasi dalam pasar karbon di Indonesia,” katanya kepada awak media.
Adik kandung Presiden RI Prabowo Subianto itu juga menyampaikan, dalam satu setengah tahun terakhir dirinya kerap bertemu berbagai pihak maupun organisasi internasional yang berminat berpartisipasi di pasar karbon Indonesia.
“Hari ini we deliver, kita sudah wujudkan. Ini adalah hasil pekerjaan Pemerintah Indonesia yang patut dibanggakan bahwa hari ini kita mulai suatu sistem registrasi unit karbon yang betul-betul bisa bekerja dan berfungsi dengan baik,” katanya.
“Dan saya bisa melaporkan kepada Bapak-Ibu media bahwa banyak sekali investor dan pelaku-pelaku dari luar negeri yang sudah siap untuk masuk ke pasar karbon Indonesia,” ujarnya menambahkan.
Lebih jauh saat disinggung investor dari negara mana saja yang telah menyatakan minatnya untuk masuk ke pasar karbon Indonesia, Hashim menyebut ketertarikan datang dari berbagai negara pesohor, termasuk AS hingga Jepang.
“Banyak, dari Amerika, dari Inggris, dari Norwegia, dari Belanda, dari Jepang, banyak,” ujarnya.
Lebih jauh mengenai potensi nilai investasi yang dapat masuk ke pasar karbon Indonesia, Hashim memperkirakan angkanya sangat besar.
“Kalau dikira-kirakan bisa puluhan miliar dolar ya,” katanya.
Semula, peluncuran SRUK merupakan amanat Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) sendiri berujar perdagangan karbon Indonesia telah mulai berjalan.
Bahkan, sebelum Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) resmi diluncurkan, Kamis (9/7/2026), sudah tercatat empat transaksi karbon yang dilakukan di sektor kehutanan.
“Tadi baru saja peluncuran mengenai SRUK (Sistem Registrasi Unit Karbon). Itu sebagai mandat dari Perpres 110 Tahun 2025 ya. Ini lintas sektor, lintas kementerian, berbagai lembaga, dan standar internasional yang tadi kita luncurkan itu,” kata Zulhas kepada awak media.
Ia menjelaskan, implementasi perdagangan karbon tidak dimulai dari nol, sebab sektor kehutanan telah lebih dulu memulai perdagangan karbon setelah aturan teknis diterbitkan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












