Drama berbalas drama. Arsenal sukses pulang dari Stadion Metropolitano dengan modal hasil imbang 1-1 melawan Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Liga Champions, Rabu (29/4/2026) malam waktu setempat. Sebuah pertandingan yang ditandai dengan kisah tiga penalti — dua yang berbuah gol, dan satu yang dianulir secara dramatis lewat tinjauan VAR.
Hasil ini membuat tiket ke final Budapest masih sangat terbuka lebar. Baik The Gunners maupun Los Colchoneros wajib menang dalam laga balasan di Stadion Emirates, London, Rabu (6/5/2026) pukul 02.00 WIB.
Penalti Pertama: Gyokeres Tenang dari Titik Putih
Pertandingan dibuka dengan tempo sedang. Kedua tim sama-sama gagal menciptakan peluang berbahaya di babak awal. Julian Alvarez dan Noni Madueke sempat mendapat kesempatan emas, namun keduanya menyia-nyiakannya.
Momentum baru bergulir di pengujung babak pertama. Viktor Gyokeres dijatuhkan dengan ceroboh oleh David Hancko di kotak terlarang. Wasit langsung menunjuk titik putih.
Gyokeres yang maju sebagai algojo melaksanakan tugasnya dengan dingin. Meski Jan Oblak menebak arah bola dengan benar, tembakan keras striker asal Swedia itu tak terbendung. Skor 1-0 untuk Arsenal pada menit ke-44 — sebuah momentum sempurna sebelum jeda istirahat.
Penalti Kedua: Alvarez Tegas dari 12 Pas
Memasuki babak kedua, Atletico tampil agresif. Alvarez sempat menyia-nyiakan tendangan bebas yang melebar dari gawang. Namun keberuntungan tuan rumah datang ketika Ben White melakukan handball di kotak penalti — sebuah pelanggaran yang baru terdeteksi setelah peninjauan VAR.
Alvarez kembali mengambil tanggung jawab dari titik 12 pas pada menit ke-56. Dengan eksekusi tegas, bola meluncur ke pojok kiri atas gawang David Raya yang hanya bisa terdiam mematung di garis gawang. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Pencapaian Alvarez ini sekaligus mengukir sejarah pribadi. Itu adalah gol ke-25 sang striker Argentina dalam 41 penampilan Liga Champions — jumlah laga tersedikit yang pernah dibutuhkan pemain Amerika Selatan untuk mencapai angka itu, mengalahkan rekor Lionel Messi yang sebelumnya mencatat 42 laga.
Penalti Ketiga: Yang Dianulir dan Bikin Patah Hati
Drama terbesar justru terjadi di menit-menit akhir. Arsenal sempat berpikir mereka akan mendapatkan peluang emas merebut kemenangan dari titik putih, setelah Eberechi Eze diduga dijatuhkan David Hancko di kotak penalti.
Wasit awalnya menunjuk titik putih. Namun setelah meninjau ulang lewat layar VAR, sang pengadil mengubah keputusannya. Kontak Hancko terhadap Eze dianggap minimal dan tidak cukup untuk dijadikan pelanggaran. Kekecewaan jelas terlihat di wajah para pemain The Gunners.
Pertarungan yang Lebih Dominan untuk Atletico
Antoine Griezmann, yang menjalani laga Liga Champions terakhirnya di Metropolitano sebelum hengkang dari Atletico di akhir musim, sempat membentur tiang gawang lewat tendangan chip yang cerdik. Eksekusi sepak pojok berikutnya juga memaksa Raya bekerja keras menggagalkan upaya Alvarez.
Ademola Lookman pun nyaris membobol gawang Arsenal di akhir laga, namun upayanya kembali ditepis Raya. Los Colchoneros memang lebih dominan secara peluang. Statistik mencatat Atletico mengakhiri laga dengan 2,22 expected goals (xG) dari 18 tembakan, sementara Arsenal hanya 1,5 xG dari 11 percobaan dengan dua yang tepat sasaran.
Catatan Sejarah dan Statistik
Hasil imbang ini menjaga rekor istimewa Atletico — Los Colchoneros belum pernah kalah di kandang dari klub Inggris pada babak gugur Liga Champions, dengan catatan tiga kemenangan dan empat hasil imbang.
Pertandingan ini juga menjadi sejarah unik bagi kedua tim. Atletico untuk pertama kalinya mencetak dan kebobolan dari penalti dalam satu laga Liga Champions. Sementara Arsenal mengalami situasi serupa untuk kedua kalinya dalam sejarah klub di kompetisi tertinggi Eropa tersebut.
Emirates Tunggu Drama Lanjutan
Dengan skor agregat 1-1, leg kedua di Stadion Emirates akan menjadi penentu siapa yang berhak melaju ke final Budapest, 30 Mei mendatang. Bagi Mikel Arteta, hasil imbang dengan satu gol away menjadi modal berharga — satu skor seri dengan jumlah gol yang sama atau lebih banyak akan cukup mengantarkan Arsenal ke final.
Bagi Diego Simeone, ini saatnya membuktikan bahwa filosofi cholismo-nya bisa membawa Los Colchoneros meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Dan untuk Antoine Griezmann, ini bisa jadi penampilan Liga Champions terakhirnya — sebuah motivasi tambahan untuk meninggalkan jejak abadi.
Satu hal yang pasti: drama belum berakhir. Stadion Emirates akan jadi panggung pamungkas yang sudah lama dinanti dunia sepak bola.









