Dendam Kesumat di Balik Penculikan Maduro: Operasi ‘Koboi’ Trump yang Mengguncang Dunia

Ikhsan Medium.jpeg

Selasa, 6 Januari 2026 – 00:01 WIB

Lewat platform Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengunggah foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang tak berdaya mengenakan setelan olahraga dengan noise-cancelling headphones di telinga usai diseret paksa oleh pasukan khusus Delta Force dari kediaman resminya. (Foto: people.com)

Lewat platform Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengunggah foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang tak berdaya mengenakan setelan olahraga dengan noise-cancelling headphones di telinga usai diseret paksa oleh pasukan khusus Delta Force dari kediaman resminya. (Foto: people.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dalam kacamata Trump, membiarkan Maduro berkuasa sama saja dengan mengizinkan ideologi kiri radikal tumbuh subur di ‘halaman belakang’ Amerika Serikat.

Panggung geopolitik dunia baru saja menyaksikan babak paling ekstrem dalam sejarah modern. Bukan lewat meja diplomasi, Donald Trump memilih cara ‘barat liar’: mengirim pasukan elite untuk menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro di istananya sendiri, lalu menyeretnya ke sel tahanan di New York.

Banyak yang bertanya, apa yang membuat Trump begitu bernafsu menghabisi karier politik Maduro? Mengapa Venezuela —negara yang berjarak ribuan mil dari Washington— begitu krusial hingga Trump nekat menabrak hukum internasional?

Sentimen Ideologi dan ‘Halaman Belakang’ Amerika

Bagi Trump, Maduro bukan sekadar pemimpin negara tetangga; dia adalah representasi ‘kanker’ sosialisme di belahan bumi Barat. Dalam kacamata Trump, membiarkan Maduro berkuasa sama saja dengan mengizinkan ideologi kiri radikal tumbuh subur di ‘halaman belakang’ Amerika Serikat.

Namun, di balik narasi demokrasi, ada aroma minyak yang menyengat. Venezuela adalah pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Trump, sang pebisnis ulung, tak sudi membiarkan aset strategis itu dikelola oleh rezim yang memusuhi kepentingan Paman Sam. 

Ditambah lagi, mesranya hubungan Maduro dengan Rusia, China, dan Iran telah menginjak-injak harga diri Doktrin Monroe yang selama ini dijunjung AS.

Sabtu Berdarah di Caracas

Puncaknya terjadi pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Atas perintah langsung dari Gedung Putih, pasukan khusus AS meluncurkan operasi kilat yang tak terbayangkan sebelumnya. Serangan udara dan darat menghantam instalasi sipil serta militer di Caracas, meratakan barikade pengawal kepresidenan.

Laporan dari lapangan menyebutkan aksi ini bak film laga Hollywood, namun dengan konsekuensi nyata yang mematikan. Setidaknya 72 orang tewas, termasuk tim keamanan loyal Maduro dan perwira militer Kuba. 

Tanpa ampun, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diringkus, matanya ditutup, dan langsung diterbangkan menuju New York dengan status tahanan ‘narko-terorisme’.

Aksi ‘Koboi’ yang Membelah Dunia

Trump tak butuh waktu lama untuk pamer. Lewat platform Truth Social, ia mengunggah foto Maduro yang tak berdaya mengenakan setelan olahraga dengan noise-cancelling headphones di telinga. Sebuah penghinaan visual yang menurut Caracas adalah ‘penculikan politik paling keji di abad ini’.

Kini, New York menjadi pusat perhatian dunia. Di sana, Maduro menunggu dakwaan atas tuduhan penyelundupan narkoba, sementara di Caracas, militer bersiaga penuh di bawah komando Presiden Sementara Delcy Rodriguez.

Dunia kini terbelah. Sementara sekutu-sekutu kiri di Amerika Latin dan raksasa Timur bersatu mengecam, Trump tetap dengan gaya pongahnya: “Kami akan mengelola Venezuela hingga transisi aman,” ucapnya dingin.

Aksi ‘koboi’ ini telah menciptakan preseden buruk dalam hubungan internasional. Pertanyaannya kini bukan lagi soal kapan Maduro diadili, melainkan siapa target Trump berikutnya? Kolombia dan Iran kini sudah mulai masuk radar bidikan sang Presiden AS.