Cuaca Ekstrem Bikin Nelayan Kecil Terjepit, Risiko Melaut Naik Produksi Turun

Reza Medium.jpeg

Minggu, 25 Januari 2026 – 04:00 WIB

Ilustrasi Nelayan membongkar ikan hasil tangkapan dari perahunya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Antara/Budi Candra Setya/tom).

Ilustrasi Nelayan membongkar ikan hasil tangkapan dari perahunya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Antara/Budi Candra Setya/tom).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Cuaca ekstrem yang berkepanjangan memukul keras nelayan kecil di berbagai wilayah pesisir. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta negara turun tangan memberi perlindungan, menyusul risiko keselamatan yang kian tinggi di tengah anjloknya penghidupan nelayan.

Ketua Umum KNTI Dani Setiawan menyebut cuaca buruk bukan hanya membahayakan nelayan saat melaut, tetapi juga merusak infrastruktur pesisir dan menekan produksi perikanan tangkap.

“Nelayan kecil makin berat bebannya. Mereka hidup dari laut, tapi sekarang justru laut jadi ancaman,” kata Dani, Sabtu (24/1/2026).

KNTI mencatat dampaknya masif. Sebanyak 95 persen nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak cuaca ekstrem. Dari jumlah itu, 63 persen terpaksa berhenti melaut karena risiko keselamatan dinilai terlalu tinggi.

Data tersebut dihimpun dari survei kampung nelayan basis KNTI di 41 kabupaten/kota pada 14 provinsi sepanjang 23–24 Januari 2026. Menurut Dani, kondisi ini tak bisa disikapi dengan imbauan semata. Negara, kata dia, punya kewajiban melindungi nelayan kecil.

“Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 jelas. Perlindungan nelayan itu kewajiban negara, bukan pilihan,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini nelayan hanya dibekali informasi cuaca, tanpa jaring pengaman sosial dan ekonomi. Akibatnya, banyak yang tetap melaut meski kondisi berbahaya demi dapur tetap mengepul. “Kalau tak ada perlindungan ekonomi, nelayan akan terus dipaksa keadaan,” kata Dani.

Dampak cuaca ekstrem terasa hampir di semua wilayah. Di Kota Ternate, Maluku Utara, Sekretaris KNTI Gafur Kaboli menyebut nelayan tuna hampir dua bulan tak bisa melaut normal akibat angin kencang dan gelombang tinggi.

Situasi serupa terjadi di Maluku Tengah dan Halmahera Selatan. Sementara di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, nelayan kecil hanya berani melaut di perairan dekat pesisir atau sungai, dengan hasil tangkapan yang tak menentu.

Di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, cuaca ekstrem bahkan memakan korban. Seorang nelayan dilaporkan hilang terseret arus setelah tetap melaut di tengah kondisi berbahaya.

Bukan cuma perikanan tangkap yang terdampak. Tambak ikan di Tegal, Pemalang, Kendal, Karawang, dan Bekasi terendam banjir. Produksi garam di Lombok Timur dan Jepara ikut anjlok akibat cuaca yang tak bersahabat.