BNI Ingatkan Waspada Phishing Jelang Lebaran, Transaksi Naik Risiko Ikut Mengintai

Nebby Medium.jpeg

Selasa, 24 Februari 2026 – 21:44 WIB

Wisma BNI 46, salah satu gedung di Indonesia yang didesain dengan arsitektur unik (Foto Wisma46)

Wisma BNI 46, salah satu gedung di Indonesia yang didesain dengan arsitektur unik (Foto Wisma46)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan siber, terutama phishing, seiring meningkatnya aktivitas transaksi keuangan selama Ramadan hingga menjelang Lebaran. 

Pencairan tunjangan hari raya (THR) dinilai kerap menjadi momentum yang dimanfaatkan pelaku kejahatan digital untuk menyasar dana nasabah.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, lonjakan transaksi keuangan pada periode Ramadan berbanding lurus dengan meningkatnya potensi serangan siber.

“Nasabah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih, terutama menjelang Lebaran ketika transaksi keuangan meningkat signifikan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, phishing masih menjadi salah satu modus kejahatan siber yang paling sering terjadi. Dalam praktiknya, pelaku menyamar sebagai institusi resmi atau pihak tepercaya untuk memperoleh data sensitif milik korban, seperti nama pengguna, kata sandi, kode OTP, hingga informasi kartu kredit.

Serangan phishing umumnya dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari email, pesan singkat (SMS), panggilan telepon, hingga media sosial. Pelaku mengirimkan pesan yang tampak meyakinkan agar korban mengklik tautan palsu, membuka lampiran berbahaya, atau secara tidak sadar menyerahkan informasi pribadi.

Menurut Okki, phishing dapat menjadi pintu masuk ke kejahatan yang lebih serius, seperti pencurian identitas, pengambilalihan akun, hingga transaksi ilegal yang merugikan nasabah. Bahkan, tren terbaru menunjukkan serangan semakin sulit dikenali karena memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.

Sejumlah ciri yang patut diwaspadai antara lain alamat email pengirim yang tidak lazim, penggunaan sapaan umum seperti “Pelanggan yang Terhormat”, pesan bernada mendesak, serta tautan yang menyerupai situs resmi tetapi memiliki perbedaan alamat.

BNI mengimbau nasabah untuk selalu memeriksa sumber pesan dan memastikan informasi hanya berasal dari kanal resmi. Masyarakat juga disarankan tidak membuka lampiran dari pengirim yang tidak dikenal, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), serta menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun.

“Tak lupa dan paling penting, jangan sembarangan klik link atau tautan yang dibagikan via email, chat, SMS, dan sebagainya,” tegas Okki.

Ia menambahkan, nasabah tidak diperkenankan membagikan data pribadi, PIN, kata sandi, maupun kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai pegawai bank. Jika menemukan aktivitas mencurigakan atau dugaan phishing, masyarakat dapat melaporkannya melalui email [email protected].

BNI menegaskan, seluruh informasi resmi perusahaan hanya disampaikan melalui kanal resmi, seperti BNI Call 1500046, akun Instagram @bni46, akun X @BNI dan @BNICustomerCare, serta Facebook BNI. Pengaduan terkait dugaan penipuan yang melibatkan rekening BNI juga dapat dilakukan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) milik Otoritas Jasa Keuangan melalui laman iasc.ojk.go.id.

BNI menekankan bahwa keamanan digital merupakan tanggung jawab bersama antara bank dan nasabah. Dengan meningkatkan literasi serta kewaspadaan dalam bertransaksi, masyarakat diharapkan dapat menjaga keamanan dana, termasuk THR, dari ancaman kejahatan siber yang terus berkembang.