Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Beban finansial akibat konfrontasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai membuat Gedung Putih putar otak. Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat akan meminta negara-negara Arab untuk ikut ‘patungan’ menanggung biaya perang yang membengkak luar biasa dalam waktu singkat.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa ide untuk melibatkan negara-negara mitra di Timur Tengah dalam pendanaan konflik ini merupakan bagian dari visi strategis Trump.
“Saya tidak akan mendahului beliau (Trump) dalam hal itu,” ujar Leavitt dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (30/3/2026). “Tetapi tentu itu adalah ide yang sepengetahuan saya beliau miliki, dan sesuatu yang saya pikir Anda akan lebih sering mendengarnya langsung dari beliau.”
Anggaran Perang yang Fantastis
Langkah Trump ini didasari oleh realitas angka yang mengejutkan di meja Pentagon. Awal bulan ini, pejabat pertahanan AS melaporkan kepada Kongres bahwa pemerintahan Trump telah menghabiskan lebih dari US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama perang melawan Iran.
Jika dikonversi ke mata uang lokal dengan kurs Rp16.957 per dolar AS, angka tersebut menembus Rp191,6 triliun. Sebuah pengeluaran masif yang menguras kantong negara dalam hitungan hari.
Namun, beban itu belum berhenti di sana. Angka US$11,3 miliar tersebut murni biaya operasional dan belum mencakup kerusakan akibat pertempuran serta penggantian alutsista yang hancur.
Beban Kerusakan Alutsista
Mengutip laporan Wall Street Journal, mantan pejabat anggaran Pentagon, Elaine McCusker, memperkirakan biaya pemulihan kerusakan dan penggantian kerugian tempur akan menelan biaya tambahan antara US$1,4 miliar hingga US$2,9 miliar (sekitar Rp23,7 triliun hingga Rp49,1 triliun) hanya untuk tiga pekan pertama perang.
Kalkulasi McCusker, yang kini aktif di American Enterprise Institute, menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar AS untuk mempertahankan front militer di Timur Tengah.
Dengan tren pengeluaran yang terus mendaki, kebijakan Trump untuk menagih ‘uang keamanan’ atau kontribusi biaya perang dari negara-negara Arab diprediksi akan menjadi isu geopolitik panas dalam beberapa pekan ke depan. Langkah ini konsisten dengan gaya diplomasi Trump yang kerap menuntut sekutu untuk berbagi beban finansial dalam urusan pertahanan global.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













