Diskusi Internasional bertajuk “Indonesia’s Relations with Sudan and Somalia: Diplomacy, Humanitarian Cooperation, and South–South Partnership in a Changing Global Order” di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (2/9/2026).(Foto: dok. UMJ)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Hubungan Indonesia dengan Sudan dan Somalia dinilai perlu diperkuat bukan hanya melalui bantuan kemanusiaan, tetapi sebagai bagian dari strategi memperbesar pengaruh Indonesia sebagai Middle Power di tengah perubahan tatanan global dan menguatnya posisi negara-negara Global South.
Pakar dari Somalia, Dr. Salah Ahmad Khalifa Idris dari City University, Mogadishu, mengatakan keterlibatan Indonesia di dua negara Afrika tersebut memiliki potensi nyata melalui diversifikasi perdagangan, diplomasi ilmiah, kredensial penjaga perdamaian, dan solidaritas Islam.
Namun, ia menilai hubungan tersebut masih kurang terinstitusionalisasi dan skalanya tertinggal dibandingkan investasi China, Turki, serta negara-negara Teluk.
“Keunggulan komparatif Indonesia di Tanduk Afrika ini bukan terletak pada skala keuangan Tiongkok, Turki, atau negara-negara Teluk,” kata Salah dalam diskusi internasional di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, kekuatan Indonesia justru terletak pada kombinasi kredibilitas sebagai negara Middle Power, pengalaman pembangunan, legitimasi penjaga perdamaian, dan solidaritas Islam.
Peluang itu terbuka karena Sudan dan Somalia memiliki pasar yang relatif belum tergarap sekaligus membutuhkan kerja sama di bidang perdagangan, pendidikan, pembangunan, dan kemanusiaan.
Indonesia dinilai memiliki modal berbeda dibandingkan China, Turki, maupun negara-negara Teluk, yakni pengalaman pembangunan, diplomasi perdamaian, serta legitimasi historis dari Konferensi Asia Afrika 1955.
Diplomasi Jangan Seremonial
Koordinator Laboratorium Ilmu Politik UMJ, Dr. Asep Setiawan MA, mengatakan hubungan Jakarta dengan Sudan dan Somalia tidak semata-mata berkaitan dengan kemanusiaan ataupun kepentingan komersial.
”Hubungan Jakarta dengan dua negara Tanduk Afrika dan Laut Merah bukanlah semata-mata kemanusiaan maupun komersial, melainkan strategi gabungan di mana aksi kemanusiaan, kontribusi penjaga perdamaian, solidaritas Islam, dan kerja sama pembangunan digunakan untuk memperkuat status Indonesia sebagai negara Middle Power yang sedang berkembang di Global South,” ujar Asep.
Ia mengingatkan, kredibilitas Indonesia sebagai kekuatan menengah kemanusiaan di Afrika akan lebih ditentukan investasi berkelanjutan dalam instrumen Kerja Sama Selatan-Selatan, bukan sekadar pertemuan puncak dan dialog.
Secara ekonomi, peluangnya juga cukup besar. Perdagangan Indonesia-Sudan berada di kisaran USD80 juta hingga USD100 juta per tahun, sementara ekspor Indonesia ke Somalia sekitar USD23,92 juta.
Somalia berpotensi menjadi pasar bagi produk sawit, garmen, mi instan, biskuit, makanan ringan, alat tulis, hingga produk kesehatan dan obat generik Indonesia.
Sementara Sudan berpotensi menyerap CPO dan turunannya, elektronik, suku cadang kelistrikan, material konstruksi, serta produk perikanan seperti lele, nila, dan gurame.
Asep menilai warisan Bandung telah memberikan Indonesia legitimasi unik di Afrika. Tantangannya kini adalah mengubah modal sejarah tersebut menjadi pengaruh yang berkelanjutan.
Dengan demikian, penguatan hubungan dengan Sudan dan Somalia bukan sekadar membuka pasar baru.
Langkah itu dapat menjadi ujian konkret apakah Indonesia mampu menerjemahkan identitas Middle Power menjadi pengaruh nyata di kawasan strategis Tanduk Afrika dan Laut Merah.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









