Swasembada Pangan Lanjut 2026, FAO dan USDA Sebut RI Jadi Produsen Beras Terbesar di ASEAN dan Dunia

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 3 Juli 2026 – 22:09 WIB

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman dalam Seminar P4N Lemhannas, di Jakarta, Kamis (2/7/2026). (Foto: Dok. Bapanas).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman dalam Seminar P4N Lemhannas, di Jakarta, Kamis (2/7/2026). (Foto: Dok. Bapanas).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Swasembada pangan diproyeksikan berlanjut di tahun ini, seiring meningkatnya produksi dalam negeri. Delapan komoditas pangan strategis termasuk beras, mencapai status swasembada dengan tiga komoditas sudah ekspor.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman mengatakan, persediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 1 Juli 2026, mencapai 5,17 juta ton. Capaian swasembada yang diraih pada akhir 2025, menjadi pijakan kuat untuk mempertahankannya di tahun ini.

“Alhamdulillah, tepat di akhir Desember 2025, kita mencapai swasembada tercepat dan stok tertinggi selama 25 tahun. Ini kita umumkan, stok kita ini tertinggi selama merdeka sampai hari ini. Dulu pernah tahun 1984, stok kita 2,6 juta ton. Sekarang 5,18 juta ton,” ungkap Amran dalam Seminar P4N Lemhannas, di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, realisasi produksi beras 2025, mencapai 34,7 juta ton, atau tetap berada di atas capaian tahun sebelumnya.

Dan, Food and Agriculture Organization (FAO) mengestimasikan produksi beras Indonesia, mencapai 35 juta ton. Sementara United States Department of Agriculture (USDA), memproyeksikan sebesar 34,6 juta ton. Atas angka tersebut, menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN, serta terbesar kedua di dunia.

“Ini angka ini bukan saja dari BPS, tapi juga dari FAO. Jadi dari FAO mengatakan produksi kita 35 ton. BPS mengatakan kurang lebih 34,7 ton. Kemudian Amerika, United States Department of Agriculture, ini datanya juga 34,6 (ton),” terang Amran.

Ia meyakini, peluang swasembada pangan berlanjut pada 2026 mencapai lebih dari 90 persen dan mencakup berbagai komoditas pangan strategis, di antaranya beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, serta bawang merah.

“Kemarin pengumuman BPS, sampai Agustus produksi kita naik dibanding tahun lalu. Artinya, mudah-mudahan September sampai Desember tidak ada bencana-bencana besar-besaran. Insha Allah, hampir pasti tingkat kepastiannya di atas 90 persen swasembada berkelanjutan. Yaitu Insya Allah 2026 sudah swasembada. Sejalan dengan swasembada, ini swasembada pangan dan beras,” jelas Amran.

Dalam kesempatan sama, Menko Pangan Zulkifli Hasan, mengatakan, swasembada pangan menyokong kesejahteraan 170 juta petani Indonesia. Komitmen swasembada itu, diperkuat melalui penerbitan 16 regulasi sepanjang 2025 hingga 2026.

“Jumlah petani kita 170 juta, kalau kita swasembada artinya ada pemberdayaan. Kalau kita impor yang untung yang luar, petani kita menderita. Dan itu yang terjadi selama 29 tahun. Nah, kita harus sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka Undang-Undang Dasar Pembukaan (dan) Pancasila. Diterbitkan kebijakan-kebijakan swasembada pangan,” ujar Menko Zulhas.

“Kita ingin berdaulat, kita ingin mandiri, kita ingin negara maju, kita ingin rakyat kita ini sejahtera, dan kita punya semua syarat untuk itu,” imbuh Menko Zulhas.

Sejalan dengan itu, pemerintah terus meningkatkan keberpihakan kepada petani melalui penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah Rp 6.500 per kilogram menjadi insentif agar petani memperoleh harga jual yang layak.

Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily menilai keberhasilan swasembada menunjukkan arah kebijakan pangan nasional berjalan sesuai target pemerintah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang