Nilai tukar rupiah terus melemah pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). (Ilustrasi: AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) pada perdagangan Jumat pagi (5/6/2026), melemah 17 poin atau setara 0,09 persen menjadi Rp18.066/US$, ketimbang penutupan kemarin yang nangkring di level Rp18.049/US$.
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan mengaku tidak kaget dengan pelemahan mata uang Garuda. “Arah pelemahan ini kan sudah sesuai dengan yang diperkirakan banyak kalangan, baik ekonom maupun analis keuangan dalam beberapa bulan terakhir. Meski pemerintah terus bersikeras menyangkal,” tandasnya.
Sikap penyangkalan itu, kata Anthony, bisa dimaklumi. Karena, pemerintah memang harus berusaha tenang di hadapan publik demi menjaga kepercayaan pasar.
Namun dia menyayangkan, strategi atau cara yang dilakukan pemerintah justru menjadi bumerang. Pertama, tidak tampak kebijakan konkret yang mampu menenangkan pasar. Kedua, penyangkalan itu disampaikan dengan nada meremehkan pihak yang memperingatkan kejatuhan rupiah. “Yang pada akhirnya terbukti benar,” tandas ekonom senior itu.
Dia pun menyoroti Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudha Sadewa yang menyatakan para ekonom pengkritik tidak paham ekonomi. Hal itu dilakukan berulang kali. Bahkan Purbaya menyebut rupiah akan menguat dalam waktu cepat. “Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Rupiah terus terdepresiasi. Ini membuat kredibilitas pemerintah terus terkikis,” kata Anthony.
Di sisi lain, dia menyebut ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga di bawah 6.000, mengalami penurunan sepertiga dari posisi tertinggi pada awal Januari 2026. “Kondisi ini diperburuk dengan sejumlah kebijakan yang diluncurkan secara tiba-tiba. Bukannya memperbaiki iklim usaha, kebijakan tersebut malah menambah ketidakpastian di kalangan investor,” imbuhnya.
Kini, kata Anthony, nasib rupiah bertumpu pada satu variabel krusial, yakni keberhasilan penerbitan Panda Bond, atau surat utang berdenominasi yuan yang diterbitkan di pasar keuangan China. Jika penerbitan itu gagal, atau hasilnya jauh di bawah ekspektasi sehingga tidak cukup menutup capital outflow, maka rupiah diprediksi akan semakin terdepresiasi. “Kurs Rp20.000 per dolar AS, atau depresiasi sekitar 21 persen dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS, bisa menjadi kenyataan,” imbuhnya.
Dalam kondisi seperti ini, lanjutnya, analisis independen dari para ekonom, menjadi semakin penting. Masyarakat membutuhkan informasi alternatif yang jujur untuk memahami risiko yang sesungguhnya dan mengambil langkah antisipasi yang tepat. Jadi, bukan sekadar menyiarkan narasi optimisme yang berulang kali terbukti meleset.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













