Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto usai menghadiri rapat terbatas (ratas) dengan Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengambil langkah hukum tegas terhadap sindikat terduga pemalsu identitas dan riset ilmiah di berbagai konferensi internasional.
Langkah ini diambil untuk memberikan efek jera serta menyelamatkan marwah akademik peneliti Indonesia di mata dunia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan, pihaknya tengah mengumpulkan bukti dan data komprehensif untuk menyeret para pelaku ke ranah pidana.
“Kami saat ini sedang terus-menerus mengumpulkan data-data untuk proses hukum terhadap terduga pelaku. Kami meyakini, kalau tidak ada tindakan hukum, tidak akan ada efek jera,” tegas Brian dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).
Langkah hukum menjadi opsi paling rasional. Berdasarkan hasil investigasi awal dan sidang komite etik, Kemendiktisaintek mendapati bahwa mayoritas terduga pelaku bukanlah dosen atau tenaga pendidik berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Alhasil, sanksi administratif berupa pemberhentian status kepegawaian tidak dapat diterapkan.
“Hanya satu yang memiliki afiliasi sebagai dosen atau peneliti di kampus Indonesia. Sisanya menggunakan afiliasi perguruan tinggi tanpa izin, yang berarti melakukan penipuan. Ini yang terus kami koordinasikan,” papar Brian.
Meski pelanggaran tersebut secara administratif berada di luar yurisdiksi langsung perguruan tinggi, Brian menilai dampak destruktifnya sangat besar bagi citra Indonesia. Kualitas substansi riset yang diklaim sangat tidak memadai dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Jejak Sindikat: Dari Taiwan hingga Skandal Kopenhagen
Kasus ini bermula dari perbincangan panas di media sosial pada Senin (25/5/2026), yang menyeret nama Rifaldy Fajar dan Prihantini. Keduanya diduga menjadi motor penggerak kelompok peneliti yang memalsukan riset demi memburu travel grant (dana hibah perjalanan) dari penyelenggara konferensi internasional.
Menurut Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Oki Hidayat, modus operandi kelompok ini sebenarnya sudah tercium sejak konferensi Asian Raptor Research and Conservation Network di Taiwan pada April 2025.
Kala itu, delegasi Indonesia dibuat bingung dengan munculnya poster penelitian burung raptor dari penulis tak dikenal.
Poster tersebut menyalahi standar (dicetak ukuran A4 alih-alih A0) dan penulisnya tak pernah menampakkan diri. Guru Besar IPB University, Prof. Syartinilia Wijaya, bahkan menyatakan topik tersebut belum pernah dikerjakan oleh ahli raptor mana pun di Indonesia.
Puncak kebohongan sindikat ini meledak di konferensi bergengsi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark. Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti Indonesia dari University of Oxford, menemukan sederet kejanggalan fatal:
Klaim Lokasi Fiktif: Riset diklaim mencakup belasan negara (dari Pegunungan Andes hingga Ethiopia), namun tanpa kolaborator lokal maupun izin etik (ethical clearance).
Afiliasi Bodong: Penggunaan nama lembaga fiktif seperti AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta.
Manipulasi Identitas: Terduga pelaku disinyalir berganti identitas hanya dengan mengganti jilbab dan nametag saat sesi presentasi.
Selain di Taiwan dan Denmark, rekam jejak digital warganet juga menemukan dugaan keterlibatan kelompok ini di konferensi iCRS 2025, Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, dan APASL STC 2025.
Merespons polemik ini, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) telah mengonfirmasi bahwa Rifaldy Fajar dan Prihantini merupakan alumni program studi Matematika di kampus tersebut. Pihak UNY berhasil menghubungi Prihantini yang kemudian meminta maaf atas kegaduhan tersebut, sementara nomor telepon Rifaldy dipastikan sudah tidak aktif.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













