Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.529 per dolar AS hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa loyo terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda terperosok ke level Rp17.529, melemah signifikan sebesar 115 poin atau 0,66 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.414.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus: rapuhnya fundamental internal dan memanasnya tensi geopolitik global yang kian tak menentu.
Pertumbuhan Ekonomi dan Bayang-bayang Fiskal
Dari sisi domestik, meski pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen—angka tertinggi dalam lima tahun terakhir—pasar rupanya tidak lantas semringah. Ibrahim menyebut angka tersebut mengalami distraksi akibat low base effect.
“Angka 5,61 persen ini terlihat tinggi karena pembandingnya, yakni kuartal I-2025, merupakan salah satu realisasi terburuk yang hanya tumbuh 4,87 persen. Jadi, ini bukan karena ekonomi tiba-tiba melesat hebat, tapi karena titik bandingnya memang rendah,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Selasa (12/5/2026).
Selain faktor pertumbuhan, pasar juga menyoroti intervensi politik dan ketidakpastian kebijakan fiskal. Kabar mengenai teguran Presiden Prabowo Subianto kepada Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo terkait pelemahan rupiah memberikan sentimen negatif.
Di saat yang sama, sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 terkontraksi untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan.
“Pasar khawatir dengan kondisi fiskal kita. Belanja negara bernilai jumbo, sementara arah penambahan pendapatan belum jelas, ditambah lagi ketidakpastian soal royalti hasil tambang,” tambahnya.
Panas Dingin Hubungan AS-Iran
Tekanan eksternal tak kalah hebat. Negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran yang sempat diharapkan membawa stabilitas, kini berada di ambang kolaps. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kondisi gencatan senjata dalam tahap kritis memicu spekulasi buruk di pasar energi.
Ketegangan makin meruncing setelah Teheran menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia. Sebagai respons, pemerintahan Trump berencana melepas 53,3 juta barel minyak dari cadangan strategis (SPR) mereka untuk meredam gejolak harga.
Kondisi diperparah dengan langkah AS menjatuhkan sanksi baru kepada sejumlah perusahaan di Hong Kong, UEA, dan Oman menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Konflik fisik pun pecah di Timur Tengah setelah militer UEA menyerang kilang minyak Iran di Pulau Lavan.
Menanti Data Inflasi AS
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar malam nanti. Data ini menjadi kompas bagi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Inflasi tahunan AS diperkirakan meningkat menjadi 3,7 persen (YoY) dari sebelumnya 3,3 persen. Jika realisasi inflasi AS tetap panas, maka ekspektasi pemangkasan suku bunga akan memudar, yang berpotensi membuat dolar AS semakin perkasa dan terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












