Kabar Buruk di Awal Pekan: Rupiah Konsisten Loyo di Level Rp17.418/US$

Iwan Medium.jpeg

Senin, 11 Mei 2026 – 10:57 WIB

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.143 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS. (Foto: Shutterstock)

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.143 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS. (Foto: Shutterstock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Awal pekan ini tampaknya bukan momentum yang baik bagi pergerakan nilai tukar rupiah. Pergerakan rupiah terpantau terus melemah terhadap dolar AS (US$).

Mengutip laporan Bloomberg pada Senin (11/5/2026) pukul 10.35 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp17.418 per dolar AS. Angka ini melemah 0,18 persen dibandingkan penutupan Jumat (8/5) di posisi Rp17.382 per dolar AS.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan indeks dolar AS kembali menekan rupiah di tengah memanasnya konflik AS dan Iran, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Dia menambahkan, konflik AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi lintasan utama perdagangan minyak dan gas dunia.

Harapan pasar terhadap pembukaan penuh Selat Hormuz, kata dia, sempat muncul setelah adanya sinyal kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, situasi kembali memanas setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata.

“Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya,” katanya.

Di sisi lain, pasar juga dibayangi perbedaan pandangan pejabat Federal Reserve terkait arah suku bunga. Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyebut suku bunga masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Dari dalam negeri, pasar turut menyoroti posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, atau naik hampir 3 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menyatakan rasio utang masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen terhadap PDB.

Namun, tekanan terhadap APBN dinilai semakin besar seiring realisasi defisit anggaran yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I-2026.

Di saat yang sama, realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp258,7 triliun. Kondisi itu membuat pasar semakin sensitif terhadap prospek penerimaan negara dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiska

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang