Legenda bulu Tangkis Indonesia Taufik Hidayat (Foto: Inilah.com/Harris)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wakil Ketua Umum I PBSI, Taufik Hidayat, mengakui ketertinggalan sektor tunggal putra Indonesia dari Prancis usai hasil buruk di Thomas Cup 2026.
Tim Thomas Indonesia gagal total setelah untuk pertama kalinya tersingkir di fase grup usai kalah telak 1-4 dari Prancis pada laga penentuan. Hasil ini menjadi catatan kelam karena Indonesia tak pernah gagal lolos dari fase grup sejak debut pada 1958.
Jika berkaca pada statistik, Prancis memang unggul di atas kertas, terutama di sektor tunggal putra. Negara yang dulu tak terlalu diperhitungkan itu kini menjelma menjadi kekuatan baru di level elite.
Tiga tunggal putra mereka, Christo Popov, Toma Junior Popov, dan Alex Lanier kini semuanya menempati 20 besar dunia. Bahkan dua nama pertama sudah bercokol di 10 besar ranking BWF.
“Ya itu, kadang kan di sini pelatih selalu minta anaknya untuk upgrade cara mainnya gimana. Saya juga minta pelatih juga harus upgrade juga, jangan mainnya begitu lagi begitu lagi. Nah di sini juga ke depannya kita akan sama,” kata Taufik Hidayat saat menanggapi pertanyaan Inilah.com terkait perkembangan pesat tunggal putra Prancis, di Jakarta, Jumat (9/5/2026).
Taufik menyoroti Alwi Farhan yang notabene satu angkatan dengan Alex Lanier. Meski sama-sama lahir dari generasi muda potensial, perkembangan Lanier dinilai jauh lebih cepat dibanding Alwi.
“Dulu mungkin kalau lihat ada fotonya dulu Alwi sebelahnya, badannya hampir sama deh besarnya. Sekarang kan beda jauh. Terus juga sekarang permainannya juga dia lebih, agak cepat menonjolnya juga,” ujar peraih emas Olimpiade Athena 2004 itu.
Menurut Taufik, kondisi tersebut menjadi alarm besar bagi PBSI untuk membedah apa yang membuat perkembangan atlet Indonesia tertinggal.”Kenapa di situ? Nah di situlah kemarin evaluasi besar di PBSI. Kenapa? Apa yang ditakutkan? Ini anak kenapa? Trauma? Kan enggak mungkin. Fasilitas apa yang nggak dikasih sama PBSI sekarang? Apapun bisa kok,” ucapnya.
Lebih lanjut, Taufik menekankan pentingnya keterbukaan dan kejujuran dari semua elemen, baik atlet, pelatih, hingga pengurus, dalam proses evaluasi menyeluruh pasca-Thomas Cup 2026.
“Kalau ditanya mungkin atletnya juga harus jujur juga. Kalau sekarang ‘Baik? Sehat?’ ‘Baik, iya, siap’, tapi enggak. Nah di situlah tadi saya bilang bahasanya tuh kita gimana menggalinya. Ayo kita sama-sama introspeksi diri.
Taufik menegaskan, pembenahan tak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak. Menurutnya, peningkatan performa dan percepatan perkembangan atlet membutuhkan kerja kolektif agar Indonesia tak semakin tertinggal dari negara-negara yang kini melesat cepat seperti Prancis.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













