Pelatih Timnas Argentina Lionel Scaloni tak mampu menyembunyikan kesedihannya setelah gagal membawa Albiceleste mempertahankan gelar juara dunia. Usai kalah 0-1 dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026, Scaloni menangis dalam konferensi pers dan mengaku hatinya sangat terpukul.
Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol setelah Ferran Torres mencetak gol tunggal pada menit ke-106 babak tambahan waktu di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) WIB.
Kekalahan tersebut menggagalkan ambisi Argentina menjadi tim pertama yang sukses mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1962.
Air Mata Scaloni Pecah di Konferensi Pers
Menjelang akhir sesi konferensi pers, Scaloni terlihat emosional ketika mengenang perjalanan panjangnya bersama Timnas Argentina.
Pelatih berusia 48 tahun itu mengaku sulit menerima kenyataan bahwa generasi emas yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun kini harus mengakhiri perjalanan dengan kekalahan di partai puncak.
“Tempat ini luar biasa. Untuk terus melanjutkan, kami membutuhkan banyak hal. Kami harus memulai lagi. Kami harus membangun kelompok seperti ini lagi, dan itu sangat sulit dilakukan. Hati saya sakit. Saya minta maaf,” ujar Scaloni.
Ia juga menyampaikan rasa bangganya kepada seluruh pemain yang telah berjuang hingga menit terakhir.
“Saya harus berterima kasih kepada kelompok pemain ini. Mereka adalah para pejuang.”
Belum Putuskan Masa Depannya
Selain mengungkapkan kesedihannya, Scaloni juga memberi sinyal belum tentu tetap melatih Argentina setelah kontraknya berakhir pada akhir 2026.
Ia mengatakan akan lebih dahulu berdiskusi dengan Presiden Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) sebelum mengambil keputusan.
“Saya akan berbicara dengan presiden. Saya kurang lebih sudah memiliki gambaran mengenai apa yang ingin saya lakukan. Saya akan menyelesaikan kontrak saya, lalu kita lihat nanti.”
Menurut Scaloni, dirinya membutuhkan waktu untuk merenungkan apakah masih sanggup melanjutkan proyek besar bersama Albiceleste.
“Sejujurnya saya merasa perlu berpikir karena saya tidak tahu apakah kami bisa melakukan sesuatu yang sebesar ini lagi. Kami sudah memberikan segalanya hingga menit terakhir.”
Argentina Kehabisan Tenaga
Scaloni mengakui perjalanan Argentina menuju final sangat menguras energi.
Albiceleste harus melewati tiga pertandingan dramatis di fase gugur setelah bangkit dari ketertinggalan saat menghadapi Tanjung Verde, Mesir, dan Inggris.
Di partai final, Argentina kesulitan menghadapi dominasi Spanyol yang menguasai jalannya pertandingan selama 120 menit.
Kondisi skuad yang mulai menua juga menjadi tantangan tersendiri. Delapan dari sebelas pemain starter di final merupakan bagian dari tim yang menjuarai Piala Dunia 2022.
Bahkan Lionel Messi, yang menjadi motor serangan Argentina, baru mampu melepaskan tembakan pertamanya ke arah gawang pada menit ke-117.
Era Emas yang Sulit Diulang
Scaloni pertama kali menangani Argentina sebagai pelatih sementara pada 2018 sebelum diangkat menjadi pelatih tetap.
Selama delapan tahun memimpin Albiceleste, ia sukses mempersembahkan Copa America 2021, Piala Dunia 2022, Copa America 2024, serta membawa Argentina kembali menembus final Piala Dunia 2026.
Meski gagal mempertahankan gelar, pencapaian tersebut menjadikan Scaloni sebagai salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Argentina.










