Jelang Penerapan B50, Kementan Sebut Sawit Punya Posisi Strategis di Sektor Energi

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 22 April 2026 – 20:42 WIB

Ilustrasi B50. (Foto: Generator AI).

Ilustrasi B50. (Foto: Generator AI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, menyampaikan posisi strategis komoditas kelapa sawit bagi perekonomian nasional saat ini tidak hanya untuk sektor pangan, tetapi juga energi.

“Ada kontribusi yang sangat kuat dari sawit untuk energi dan pangan. Apalagi kita akan masuk B50 pada 1 Juli 2026. Dalam konteks global, sawit Indonesia berkontribusi 62 persen terhadap pasokan sawit dunia,” papar Kuntoro dalam acara 1st International Environment Forum (IEF) menyambut Hari Bumi di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Selain itu, kata dia, sawit Indonesia berkontribusi lebih dari 54 persen terhadap minyak nabati dunia karena produktivitas sawit lebih besar 5–10 persen dibandingkan minyak nabati lainnya. Hanya saja, industri sawit di Indonesia selalu menjadi bahan kampanye hitam dari berbagai kalangan di Uni Eropa.

“Sehingga perlu digelar banyak forum untuk mengingatkan para pelaku usaha sawit di Indonesia agar selalu memperhatikan isu lingkungan, iklim, dan deforestasi. Bahwa lahan sawit bukan deforestasi karena pelaku industri sawit wajib memiliki sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Permentan Nomor 33 Tahun 2025,” imbuhnya.

Standar ISPO, kata dia, saat ini mendapat pengakuan dari banyak negara. Artinya, dunia mulai mengakui bahwa tata kelola sawit di Indonesia sangat mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan atau ramah lingkungan. “Sawit Indonesia ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan dampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan. Itu yang harus kita gaungkan,” pungkas Kuntoro.

Mantan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang, mengatakan perlu sejumlah langkah untuk melindungi dan menyelamatkan sawit dari pihak yang belum memahami.

“Kalau dikatakan sawit merusak lingkungan, itu berarti belum paham betul. Mahasiswa harus bisa mengedukasi seluruh lapisan masyarakat bahwa sawit memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya,” beber Bambang.

Terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, Bambang menyoroti kebutuhan minyak sawit yang semakin krusial, mengingat pemerintah akan menerapkan B50 demi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil.

Sementara itu, pakar kehutanan IPB, Prof Sudarsono Soedomo, mengaku tak percaya perkebunan sawit merusak lingkungan, bahkan disebut sebagai biang kerok banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), dan Aceh pada akhir November 2025.

Penyebabnya, kata Sudarsono, sering dipahami secara simplistis karena adanya tekanan publik sehingga memaksa pemerintah untuk mendorong pencarian pihak. “Sebetulnya banyak orang yang tidak percaya dengan narasi sawit penyebab banjir. Tetapi ketika narasinya sudah tersebar luas, tidak ada yang berani menyanggah,” kata Sudarsono.

Dia menjelaskan, penyebab banjir di Pulau Sumatera itu lebih dipicu kenaikan curah hujan yang sangat ekstrem. Banjir terjadi ketika run-off melebihi kapasitas sistem, kemudian masuk ke sungai secara berlebihan sehingga terjadilah banjir.

“Peran hutan memanglah intersepsi (menahan) hujan, meningkatkan infiltrasi, dan meningkatkan air tanah untuk menunda aliran permukaan (lag time) dan sangat efektif pada kondisi hujan normal. Namun, ketika hujannya sangat ekstrem seperti di Sumatera, hutan ada batasnya dan masalahnya juga,” jelasnya.

Sebelum terjadinya air bah di Pulau Sumatera, kata dia, kapasitas hujan mencapai 411 mm. Padahal, jumlah tersebut biasanya terjadi dalam 2–3 bulan. “Ahli hidrologi menyebut bahwa hujan seperti itu terjadi 400–500 tahun sekali. Jadi, dalam kondisi seperti itu, hutan pun tak akan tahan,” tegas Sudarsono.

Kesalahan dalam narasi umum yang menyatakan sawit sebagai penyebab tunggal terjadinya banjir menimbulkan banyak kerugian bagi para pelaku industri sawit yang selama ini berkontribusi besar terhadap devisa negara.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, perkebunan sawit di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Luasnya mencapai 16,83 juta hektare. Dari ekspor, sawit adalah penyumbang devisa nonmigas terbesar yakni Rp440 triliun pada 2024. Serta membuka lapangan kerja sedikitnya 16 juta jiwa.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang