Nafta Langka Bikin Sulit Industri Petrokimia, Menperin Agus Bidik Negara Pemasok Baru

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 16 April 2026 – 04:09 WIB

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: ANTARA/HO Kemenperin/am).

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: ANTARA/HO Kemenperin/am).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Terganggunya pasokan bahan baku plastik yakni nafta sebagai dampak konflik Selat Hormuz membuat industri petrokimia kesulitan beroperasi.  

Tak hanya itu, pedagang kecil hingga industri otomotif pun kena getahnya. Harga plastik mengalami kenaikan dan sulit dikendalikan.

Menghadapi kondisi ini, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah tengah menjajaki sumber pasokan baru di luar pemasok tradisional. “Lihat saja siapa produsen nafta, di situlah potensi sebagai calon supplier kita,” kata Menperin Agus di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Upaya mencari sumber pasokan alternatif ini, menurut politikus Partai Golkar itu, merupakan bagian dari strategi diversifikasi agar industri tidak terlalu bergantung pada satu kawasan tertentu.

Apakah sudah ada negara yang disasar sebagai sumber pasokan nafta baru? Dengan nada optimistis, Menperin Agus menjawab sudah. “Sebagian pasokan alternatif mulai terlihat, meski belum signifikan bisa memenuhi kebutuhan nasional. Misalnya, Malaysia,” ungkapnya.

Namun, kata dia, pemerintah sangat berhati-hati dalam membuka detail kerja sama yang sedang berjalan. Proses penjajakan masih terus berlangsung. “Ada pembicaraan, tapi masih bersifat confidential,” lanjutnya.

Kondisi ini menunjukkan persaingan mendapatkan bahan baku semakin ketat di tingkat global. Negara dan pelaku industri berlomba mengamankan suplai.

“Semua negara menghadapi scarcity, sehingga terjadi kompetisi untuk mendapatkan pasokan,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, pelaku usaha diminta lebih aktif mencari peluang pasokan, termasuk dari pasar internasional. “Kalau ada ketersediaan di luar negeri, ambil saja,” tegasnya.

Pemerintah melihat fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku sebagai kunci agar industri tetap berjalan di tengah ketidakpastian global. “Perusahaan harus mampu merumuskan strategi pengadaan bahan baku dengan cepat,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota Komisi XII DPR dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna menilai, gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah, harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan transformasi mendasar di industri polimer nasional. Perlu dikurangi ketergantungan terhadap bahan baku berbasis fosil, menuju ekonomi sirkular berbasis biomassa.

Eskalasi krisis geopolitik global telah memperlihatkan rapuhnya struktur industri petrokimia nasional yang selama ini sangat bergantung pada impor. Indonesia saat ini mengimpor hampir seluruh kebutuhan nafta domestik yang mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, atau sekitar 70 persen berasal dari kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini menjadikan industri nasional sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global, termasuk ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

“Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap nafta impor menunjukkan bahwa struktur industri kita belum sepenuhnya berdaulat. Ini harus menjadi titik balik untuk membangun fondasi industri yang lebih tangguh dan mandiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa tekanan tidak hanya datang dari sisi geopolitik, tetapi juga dari dinamika pasar global. Kebijakan proteksionis negara produsen seperti Korea Selatan dan China yang membatasi ekspor nafta, memicu kelangkaan bahan baku di kawasan Asia, berdampak langsung pada kenaikan harga resin plastik di dalam negeri.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang