Bahan Baku Makin Mahal, Harga Saham Emiten Plastik Ramai-ramai ‘Melepuh’

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 7 April 2026 – 21:33 WIB

OJK mencatat nilai kapitalisasi pasar meningkat sebesar 3,45 persen ytd per 30 April 2024 meskipun pasar saham domestik terkoreksi akibat tekanan di pasar saham global sebagai dampak gejolak geopolitik dunia. (Foto: Inilah.com)

OJK mencatat nilai kapitalisasi pasar meningkat sebesar 3,45 persen ytd per 30 April 2024 meskipun pasar saham domestik terkoreksi akibat tekanan di pasar saham global sebagai dampak gejolak geopolitik dunia. (Foto: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kelangkaan bijih plastik sebagai bahan baku utama industri plastik berdampak ke pasar saham. Sejumlah emiten plastik kemasan pun mengalami tekanan, karena harga saham yang babak belur.

Pada perdagangan sesi II, Selasa (7/4/2026), saham industri bahan baku plastik utama, yakni PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI), anjlok hingga 4,88 persen ke posisi Rp428 per saham. Perusahaan yang merupakan bagian dari Lotte Chemical Corp (Korea), produsen bahan dasar kemasan, pipa, hingga kantong plastik, benar-benar mengalami tekanan.

Nasib serupa dialami PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang sahamnya merosot 3,65 persen ke posisi Rp2.110 per saham. Sebagai informasi, IMPC merupakan emiten produsen bahan bangunan berbasis plastik, seperti lembaran dinding kembar PP, kompon vinil food grade, lembaran plastik bangunan solid, lembaran polikarbonat, atap vinil, hingga lembaran polikarbonat timbul.

Emiten produsen dan distributor plastik, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), juga melemah 2,84 persen menjadi Rp515 per saham. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen kantong plastik berbahan PP, HDPE, dan PE dengan merek Tomat, Bengkuang, Wayang, dan Sparta.

PT Berlina Tbk (BRNA) sedikit lebih beruntung, meski harga sahamnya tetap turun 0,75 persen menjadi Rp660 per saham. Emiten kemasan plastik ini tercatat memiliki tujuh pabrik, termasuk satu pabrik di luar negeri.

Saham emiten lain yang bergerak di industri perplastikan, yakni PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI), terpantau bertahan di level Rp510 per saham. Saat pembukaan perdagangan, saham AKPI yang bergerak di bisnis BOPP (biaxially oriented polypropylene) atau bahan plastik, sempat turun ke posisi terendah Rp492 per saham.

Sementara itu, saham PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP), produsen dan distributor kemasan plastik berbasis HDPE dan LLDPE/LDPE, justru mencatatkan kenaikan sebesar 24 persen menjadi Rp105 per saham.

Ambruknya harga saham industri plastik ini berkaitan dengan mahalnya harga nafta (naphtha), bahan baku utama plastik, yang menembus US$995,664 per metrik ton. Angka tersebut mendekati level tertinggi sepanjang sejarah yang sempat mencapai US$1.092 per metrik ton saat krisis 2008.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang