Grandprix Thomryes Marth Kadja. (Foto: Dok. pribadi)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kabar membanggakan datang dari pemuda asal Desa Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Grandprix telah mencatat berbagai prestasi gemilang. Pada 2017, Grandprix menyandar gelar doktor dan mengukuhkan diri sebagai doktor termuda se-Indonesia.
Bahkan namanya masuk daftar top 2 persen peneliti terbaik dunia versi Elsevier dan Universitas Stanford tahun 2024 dan 2025, berkat inovasi risetnya di bidang material nano dan energi berkelanjutan.
Selama studi S2 dan S3, ia menghasilkan sembilan artikel ilmiah, delapan di antaranya terbit di jurnal internasional bereputasi.
Memang sejak Grandprix duduk di bangku sekolah, ia sudah langganan menjadi juara kelas, hingga mengantarkan dirinya kuliah di Universitas Indonesia (UI) dan lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2013.
Grandprix kemudian mendapat beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), dan melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saat ini, Grandprix mengabdi sebagai dosen Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik ITB, sekaligus bagian dari Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK-ITB), yang aktif meneliti berbagai aplikasi material nano sejak awal berdiri tahun 2019.
Selama ini, penelitiannya berfokus pada pengembangan material nanopori dan MXene, yakni material nano dua dimensi yang baru ditemukan secara global tahun 2011.
“Lab kami adalah yang pertama mengembangkan MXene di Indonesia sejak tahun 2019,” kata Grandprix dikutip dari laman resmi ITB, Sabtu (7/2/2026).
Sebagai ilmuwan muda, Grandprix menyadari adanya tantangan seperti keterbatasan bahan dan fasilitas. Namun, hal tersebut bukan halangan baginya.
“We make the best out of what we have. Kuncinya adalah kolaborasi dengan kolega-kolega di luar negeri. Muda itu bukan soal usia saja, tapi tentang semangat yang membara dan tidak pernah padam. Kita tidak boleh merasa kecil karena masih muda,” tuturnya.
Pria kelahiran 31 Maret 1993 itu percaya diri bila penelitiannya di bidang katalis akan memiliki dampak signifikan dalam lima tahun ke depan.
“Mengingat lebih dari 90 persen proses industri kimia memerlukan katalis, inovasi yang efisien dan berkelanjutan di bidang ini akan membawa pengaruh besar terhadap sektor energi, lingkungan, dan manufaktur nasional,” ungkapnya.
Dari kisah ini, Grandprix menjadi bukti bahwa meski berasal dari desa, mimpi besar dan ilmu pengetahuan dapat membawa kesuksesan bagi mereka yang mau berusaha.










