Gara-Gara “Bang Jay”, Emil Audero Ketinggalan Bus Tim di Stadion Sassuolo!

Insiden menggelitik mewarnai laga lanjutan Serie A Italia musim 2025/2026 antara Sassuolo melawan Cremonese, Minggu (25/1). Kiper Cremonese, Emil Audero Mulyadi, harus mengalami nasib apes tertinggal bus timnya sendiri gara-gara “reuni dadakan” dengan kompatriotnya di Timnas Indonesia, Jay Idzes.

Pertandingan yang digelar di Mapei Stadium tersebut sejatinya berakhir pahit bagi Emil di lapangan, namun ceritanya di luar lapangan justru mengundang gelak tawa.

Kronologi: Lupa Waktu Bersama “Bang Jay”

Menurut laporan Sky Sports Italia, kejadian bermula saat Emil Audero bertemu dengan bek andalan Sassuolo, Jay Idzes, di area mixed zone usai pertandingan.

Keduanya tampak sangat akrab berbincang. Situasi makin hangat karena kehadiran dua wartawan asal Indonesia yang mewawancarai mereka. Keasyikan bertukar cerita dan melayani permintaan foto membuat kiper berusia 29 tahun itu lupa waktu.

“Kejadian tak biasa terjadi ketika Emil Audero ditinggal setelah pertandingan Sassuolo vs Cremonese. Setelah wawancara usai pertandingan, Audero dan Idzes berbincang dengan dua wartawan Indonesia,” tulis laporan media Italia tersebut.

“Di saat yang sama, bus Cremonese pergi tanpa Audero,” lanjut laporan itu.

Pulang Naik Jemputan Khusus

Beruntung, Emil tidak harus mencari tumpangan sendiri atau lari mengejar bus. Pihak manajemen Cremonese menyadari situasi tersebut dan segera bertindak profesional.

Klub menyediakan kendaraan terpisah untuk menjemput sang kiper agar bisa kembali ke markas tim di Cremona dengan aman, meski harus terpisah dari rombongan utama.

Sassuolo Menang Tipis

Di dalam lapangan, Jay Idzes yang membela Sassuolo lebih beruntung daripada Emil. Tuan rumah Neroverdi berhasil mengamankan kemenangan 1-0 berkat gol cepat Alieu Fadera pada menit ketiga.

Hasil ini membawa dampak signifikan di papan klasemen:

Sassuolo: Naik ke peringkat 10 dengan 26 poin, menjauh dari zona merah.

Cremonese: Tertahan di posisi 14 dengan 23 poin dan memperpanjang tren negatif gagal menang dalam lima laga terakhir.

Momen ini menjadi bukti keakraban para pemain keturunan Indonesia yang berkarier di level tertinggi sepak bola Eropa, meskipun kali ini harus dibayar dengan “ongkos” ketinggalan bus.