Riset Ilmiah Bongkar Mikroplastik Jadi Polutan Super Berbahaya Akibat Krisis Iklim

Planet Bumi kini menghadapi krisis kembar yang saling memperparah: polusi plastik dan perubahan iklim. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Frontiers mengungkap fakta yang sangat mengkhawatirkan: mikroplastik telah bermutasi menjadi polutan yang jauh lebih mobile, persisten, dan berbahaya, imbas dari gelombang panas dan cuaca ekstrem yang makin sering menghantam bumi.

Frank Kelly, penulis utama studi dan profesor di Imperial College London, menegaskan bahwa ini adalah ‘krisis ganda yang saling memperparah satu sama lain’. Penelitian komprehensif ini meneliti ratusan studi lain dan menemukan bukti kuat bahwa perubahan iklim secara sistematis memperburuk polusi plastik di seluruh ekosistem –air, tanah, atmosfer, hingga satwa liar.

Suhu Panas Menggandakan Kecepatan Degradasi

Pemanasan global bertindak sebagai katalisator dalam memperparah masalah ini. Peningkatan suhu, kelembaban, dan intensitas sinar Matahari secara langsung menyebabkan plastik mengalami degradasi lebih cepat. Plastik menjadi rapuh, retak, dan dengan segera terpecah menjadi fragmen-fragmen kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.

Studi tersebut mencatat temuan yang ekstrem: peningkatan suhu hanya sebesar 10 derajat Celsius selama gelombang panas ekstrem berpotensi menggandakan laju degradasi plastik.

Lebih dari itu, cuaca ekstrem seperti badai dan banjir memiliki peran ganda. Mereka tidak hanya mempercepat proses pemecahan plastik, tetapi juga memindahkannya secara masif dan menyebarkannya lebih luas. Contohnya, studi mencatat bahwa badai tropis di Hong Kong mampu meningkatkan konsentrasi mikroplastik dalam sedimen pantai hampir 40 kali lipat. Banjir bahkan dapat membentuk ‘plastic rocks’ –batu yang terikat dan menyatu secara kimia dengan plastik– yang kemudian menjadi pabrik pembentuk mikroplastik.

Bahkan bencana seperti kebakaran hutan, yang dipicu oleh suhu tinggi dan kekeringan, melepaskan mikroplastik dan senyawa beracun ke atmosfer. Sementara itu, mencairnya es laut –yang selama ini menjebak dan mengkonsentrasikan mikroplastik– kini berpotensi melepaskan timbunan polusi besar-besaran ke lautan.

Mikroplastik adalah ‘Kuda Troya’ Beracun

Analisis para ilmuwan menemukan bahwa perubahan iklim membuat mikroplastik menjadi lebih berbahaya secara kimia. Mikroplastik kini bertindak sebagai ‘Kuda Troya’ lingkungan; mereka membawa zat-zat berbahaya seperti pestisida dan ‘kimia abadi’ (yang tidak mudah terurai).

Suhu lingkungan yang lebih tinggi memudahkan plastik untuk menyerap dan melepaskan kontaminan berbahaya ini, serta meningkatkan kemampuan partikel itu untuk melepaskan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya ke dalam organisme hidup.

Dampaknya sangat signifikan pada hewan, terutama kehidupan laut. Penelitian pada terumbu karang, siput, tiram, dan ikan menunjukkan bahwa polusi mikroplastik membuat mereka kurang tahan terhadap kenaikan suhu laut dan pengasaman laut –dua efek langsung dari perubahan iklim. Predator puncak seperti paus orca juga diidentifikasi sangat rentan, menjadikannya ‘peringatan dini’ bagi kerusakan rantai makanan.

Solusi Mendesak: Perjanjian Global atau Bencana

Para penulis studi, termasuk Stephanie Wright dari Imperial College London, mendesak tindakan segera. Mereka mengusulkan solusi seperti mengurangi penggunaan plastik, mendorong daur ulang, dan merancang ulang produk –terutama menghilangkan plastik sekali pakai.

Harapan terbesar terletak pada perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi. Namun, negosiasi bertahun-tahun macet lantaran negara-negara terpecah, terutama mengenai batasan produksi plastik –langkah yang dianggap krusial oleh para ahli.

Situasi diperkirakan memburuk. Produksi plastik global meningkat 200 kali lipat antara 1950 dan 2023, dan tren ini akan terus meningkat seiring perusahaan minyak mengalihkan investasi ke industri plastik.

“Kita harus bertindak sekarang, karena plastik yang dibuang hari ini mengancam gangguan berskala global pada ekosistem di masa depan,” ucap Wright.

Tamara Galloway, seorang profesor ekotoksikologi dari Universitas Exeter, menekankan bahwa inti dari kedua masalah ini adalah kebutuhan mendesak untuk mengurangi pola konsumsi berlebihan global.