Duel Peringkat 1 dan 2 Dunia Tersaji di Final ATP Finals 2025. (Foto: ATP)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Persaingan antara Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner menjadi kisah paling menarik di dunia tenis tahun 2025. Dua bintang muda itu tidak hanya berbagi empat gelar Grand Slam, tetapi juga menutup musim dengan duel epik di final ATP Finals di Turin.
Sepanjang tahun ini, Alcaraz dan Sinner sudah berjumpa enam kali, dengan petenis Spanyol itu unggul 4-2 dan memperlebar rekor pertemuan menjadi 10-6. Rivalitas mereka tak sekadar soal kemenangan, tetapi tentang bagaimana keduanya saling memaksa untuk terus berevolusi di level tertinggi.
Pertemuan pertama terjadi di final Roma Masters, ketika Sinner berambisi menjadi juara Italia pertama sejak Adriano Panatta pada 1976. Namun, Alcaraz menggagalkan mimpi itu, mengakhiri 26 kemenangan beruntun Sinner dan merebut gelar Roma pertamanya.
“Dia punya aura itu,” kata Alcaraz kala itu. “Ketika Anda melihatnya di sisi lain net, rasanya berbeda.”
Mereka kembali bersua di final French Open, menghasilkan duel klasik berdurasi lima jam 29 menit—final putra terpanjang dalam sejarah Roland Garros. Sempat tertinggal dua set dan menghadapi tiga match point, Alcaraz bangkit untuk menang 4-6, 6-7(4), 6-4, 7-6(3), 7-6(10-2). “Juara sejati lahir dari tekanan,” ujarnya usai laga.
Sinner membalas dendam di final Wimbledon, tampil luar biasa untuk merebut gelar perdananya di All England Club. Dengan servis dominan dan serangan agresif di net, ia menundukkan Alcaraz dan mematahkan rentetan kemenangan sang juara bertahan.
“Ini emosional. Setelah kekalahan berat di Paris, kami belajar, menerima, lalu bangkit,” ucap Sinner dalam pidato kemenangannya.
Namun, di Cincinnati Masters, Sinner harus menyerah tanpa perlawanan karena sakit, membuat Alcaraz meraih gelar kedelapan ATP Masters 1000-nya. Momen itu menunjukkan sisi lain dari rivalitas keduanya—penuh respek dan empati.
Puncaknya terjadi di final US Open, saat Alcaraz tampil sempurna untuk merebut kembali gelar Flushing Meadows sekaligus posisi No.1 dunia dari tangan Sinner. Ia melepaskan 42 winner dan hanya kehilangan sembilan poin di servis pertamanya.
“Dia benar-benar bermain sempurna,” ujar pelatih Juan Carlos Ferrero, sementara Alcaraz mengaku, “Saya rasa memang begitu.”
Musim ditutup di ATP Finals Turin, ajang penutup tahun yang menjadi saksi keunggulan tuan rumah. Di bawah sorotan Inalpi Arena, Sinner memenangi laga pamungkas dengan catatan sempurna 5-0, menaklukkan Alcaraz lewat performa servis yang nyaris tanpa cela—84 persen poin dari servis pertamanya masuk.
“Saya merasa menjadi pemain yang lebih baik dari tahun lalu. Ini semua bagian dari proses,” ujar Sinner, menutup musim dengan nada reflektif.
Tahun 2025 pun mencatat satu babak baru dalam sejarah tenis: dua anak muda yang menguasai empat Grand Slam dan menyalakan kembali semangat rivalitas klasik—mengingatkan dunia pada era Federer–Nadal. Bedanya, kali ini, masa depan tenis berbahasa Spanyol dan Italia.













