Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta saat menghadiri acara Indonesia Humanitarian Summit di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026). (Foto: Inilah.com/Reyhanaah)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta, memberikan apresiasi tinggi kepada Dompet Dhuafa atas konsistensinya selama lebih dari tiga dekade dalam mengelola dana umat. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, peran lembaga filantropi Islam dinilai semakin krusial sebagai benteng pertahanan ekonomi masyarakat bawah.
Hal tersebut disampaikan Anis Matta saat menghadiri acara Indonesia Humanitarian Summit di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Menurut Anis, Dompet Dhuafa bukan sekadar lembaga amal, melainkan pelopor yang telah berhasil membangun ekosistem filantropi nasional yang kokoh.
“Saya ingin mengapresiasi Dompet Dhuafa, ini adalah salah satu lembaga filantropi yang terus bertumbuh. Baik dalam ukurannya, kemampuan, pengalamannya, dan juga dalam jumlah penerima manfaatnya yang sampai sekarang rata-rata mencapai 3 juta orang setiap tahunnya,” ujar Anis.
Redistribusi Kekayaan dan Mental Memberi
Dalam pandangan Anis Matta, keberhasilan terbesar lembaga seperti Dompet Dhuafa bukan hanya pada angka donasi yang terhimpun, melainkan pada dampak sosiologisnya. Lembaga ini dinilai sukses menumbuhkan “tradisi memberi” di tengah masyarakat Indonesia.
Tradisi ini, lanjut Anis, menciptakan mental sosial yang sehat dan menjadi mekanisme ampuh untuk redistribusi kekayaan. Dalam konsep Islam, aliran harta dari aghniya (orang kaya) ke dhuafa (kaum lemah) adalah kunci keseimbangan sosial.
“Dompet Dhuafa bersama negara mempunyai fungsi yang sangat baik dalam redistribusi kekayaan masyarakat, dan ini tampak nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan,” tegas mantan Presiden PKS tersebut.
Antisipasi ‘Orang Miskin Baru’ Akibat Geopolitik
Namun, Anis Matta juga memberikan catatan serius mengenai tantangan masa depan. Ia menyoroti situasi geopolitik dunia yang kian memanas, ancaman perang, bencana alam, hingga potensi krisis ekonomi global yang bisa berdampak langsung ke Indonesia.
Kondisi ini, menurutnya, berpotensi mengguncang kohesi sosial dan melahirkan kelompok rentan baru.
“Krisis ekonomi yang akan datang sangat mungkin menambah jumlah orang miskin atau menciptakan orang miskin baru,” peringat Anis.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kehadiran lembaga filantropi yang profesional dan amanah menjadi sangat strategis. Ketika negara menghadapi keterbatasan anggaran akibat krisis, dana sosial keagamaan (Ziswaf) yang dikelola lembaga filantropi bisa menjadi jaring pengaman sosial (social safety net) yang efektif.
“Kehadiran lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa ini mempunyai peran yang sangat penting untuk menjaga kohesi sosial di tengah tantangan global yang kompleks,” pungkasnya.














