Trump Lawat ke Beijing, PBB Tagih Solusi untuk Krisis Selat Hormuz

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 14 Mei 2026 – 17:18 WIB

Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq. (Foto: Associated Press)

Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq. (Foto: Associated Press)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan apresiasi tinggi atas pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Organisasi dunia ini berharap, momentum langka ini menjadi kunci penyelesaian berbagai konflik global yang tengah membara, termasuk krisis energi di Selat Hormuz.

Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, menegaskan bahwa dialog antara dua kekuatan besar ini sangat krusial bagi stabilitas dunia. Terlebih, kunjungan kenegaraan Trump ini merupakan kunjungan pemimpin AS pertama ke China dalam sembilan tahun terakhir.

“Jelas, kami menghargai semua dialog antara dua negara penting seperti Amerika Serikat dan China. Kami ingin mereka menggunakan momen seperti ini untuk menyelesaikan perbedaan melalui negosiasi,” ujar Farhan Haq di markas PBB, New York, Rabu (13/5/2026).

Fokus pada Jalur Logistik Dunia

Salah satu isu krusial yang diharapkan PBB dapat terurai dalam pertemuan di Beijing adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman. Selat ini merupakan urat nadi utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia ke pasar global.

Eskalasi militer yang terjadi beberapa waktu terakhir telah melumpuhkan lalu lintas di jalur tersebut, yang secara otomatis memicu lonjakan harga bahan bakar dunia. Namun, PBB menyadari bahwa beban penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya dipikul oleh Beijing dan Washington semata.

“PBB tidak mengharapkan masalah selat tersebut diselesaikan oleh China dan AS saja,” tambah Haq, mengisyaratkan perlunya keterlibatan kolektif negara-negara terkait di kawasan Timur Tengah.

Bara Konflik AS-Iran

Ketegangan di Selat Hormuz sendiri merupakan buntut dari rangkaian aksi militer yang melibatkan blok AS-Israel dengan Iran. Pada 28 Februari lalu, serangan udara AS dan Israel ke sejumlah target di Iran memicu kerusakan masif serta korban jiwa dari kalangan sipil.

Meski gencatan senjata selama dua pekan sempat diumumkan pada 7 April, upaya damai melalui pembicaraan di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa hasil konkret.

Hingga saat ini, status konflik masih berada dalam periode “gencatan senjata yang diperpanjang”. Presiden Trump sengaja mengulur waktu guna memberi kesempatan bagi Teheran untuk mengajukan sebuah “proposal terpadu” yang dapat diterima semua pihak.

Kini, dunia menunggu apakah lobi-lobi di Beijing antara Trump dan Xi Jinping mampu memberikan tekanan diplomatik yang cukup untuk memadamkan bara di Timur Tengah dan menstabilkan kembali pasokan energi global.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang