Tertekan Avtur: Batik Air Malaysia Kurangi Operasional dan Sodorkan Program Cuti Tanpa Bayaran

Tak hanya maskapai penerbangan Indonesia yang terpukul oleh lonjakan harga avtur sebesar 70–80 persen. Maskapai di Malaysia pun ikut terdampak mahalnya bahan bakar tersebut. Salah satunya adalah maskapai full service Batik Air Malaysia.

Mulai April ini, Batik Air Malaysia memangkas 35 persen jadwal penerbangan. Penyebabnya tak lain adalah tingginya biaya bahan bakar (avtur). Selain itu, ketidakpastian perekonomian global akibat konflik di Timur Tengah (Timteng) turut menjadi tekanan besar bagi industri penerbangan.

Dikutip dari The Edge Malaysia dan Free Malaysia Today, Jumat (3/4/2026), pemangkasan kapasitas oleh Batik Air Malaysia dilakukan terutama pada paruh pertama April 2026. Langkah ini difokuskan pada pengurangan frekuensi penerbangan, bukan penghentian rute secara permanen.

“Ini bukan keputusan yang mudah. Namun, mengingat situasi saat ini, kami harus mengambil langkah proaktif untuk memastikan stabilitas operasi,” kata CEO Batik Air Malaysia, Datuk Chandran Rama Muthy.

Menurutnya, tekanan biaya bahan bakar dan faktor geopolitik sangat berdampak terhadap industri penerbangan global. “Industri penerbangan saat ini menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perkembangan ini menyebabkan volatilitas harga bahan bakar yang ekstrem dan mengganggu rantai pasok global,” ujar Chandran.

Lonjakan harga avtur, lanjut dia, mendorong maskapai untuk menyesuaikan kapasitas demi menjaga keberlanjutan operasional. Dalam konteks ini, pengurangan frekuensi penerbangan dinilai sebagai langkah paling rasional dibandingkan menutup rute secara permanen.

“Penting juga pengelolaan kapasitas secara disiplin agar tetap selaras dengan kondisi permintaan dan ketersediaan sumber daya,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pengurangan kapasitas sebesar 35 persen tersebut berlangsung hingga 12 April 2026. Setelah periode itu, perusahaan akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap kondisi pasar dan operasional.

Langkah penyesuaian dilakukan pada frekuensi penerbangan sehingga jaringan rute yang ada tetap dipertahankan. “Pengurangan ini akan difokuskan pada frekuensi penerbangan, bukan membatalkan destinasi sepenuhnya,” ujarnya.

Program Cuti Tanpa Bayaran

Selain memangkas operasional, Batik Air Malaysia juga memperkenalkan program cuti tanpa bayaran secara sukarela kepada karyawan sebagai bagian dari upaya efisiensi.

Dalam memo internal yang beredar, karyawan diberi kesempatan untuk mengajukan cuti tanpa bayaran mulai April 2026. Maskapai yang memiliki sekitar 3.500 karyawan itu menilai kebijakan ini sebagai salah satu cara menjaga stabilitas keuangan perusahaan di tengah tekanan operasional.

“Langkah efisiensi ini dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan bisnis dan kesejahteraan karyawan,” ujar Chandran.

Di sisi lain, ia menyebut tingkat keterisian penumpang atau load factor masih relatif kuat. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengimbangi lonjakan biaya bahan bakar dan ketidakpastian eksternal yang memengaruhi operasional maskapai.

Karena itu, perusahaan memilih menyesuaikan kapasitas guna menghindari risiko operasional yang lebih besar.

“Pengelolaan kapasitas yang disiplin dan pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan global sangat penting untuk meminimalkan risiko,” kata Chandran.