Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tidak hanya menyuntikkan dana triliunan rupiah ke PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., tetapi juga menyuntikkan strategi kepemimpinan yang radikal. Penempatan dua ekspatriat dalam jajaran direksi maskapai nasional tersebut ternyata memiliki misi ganda: bukan hanya mentransformasi bisnis, tetapi juga menjadi mentor bagi talenta muda Garuda.
Managing Director Danantara Febriany Eddy menyampaikan bahwa pengembangan talenta muda di jajaran direksi sangat krusial. Terutama bagi figur-figur yang meniti karier organik dari internal Garuda Indonesia.
“Ada Pak Mukhtaris, Pak Dani Haikal, Rino, dan juga Reza. Empat ini adalah talenta organik dari dalam Garuda, dan empat ini masih muda. Kami ingin mengirimkan pesan bahwa kami berkomitmen mengembangkan talenta internal Garuda,” ungkap Febriany dalam sesi temu media di Wisma Danantara, Sabtu (15/11/2025).
Misi Coaching Balagopal dan Neil Mills
Pesan pengembangan talenta ini pula yang menjadi mandat utama bagi dua ekspatriat yang baru bergabung: Balagopal Kunduvara dan Neil Raymond Mills. Harapannya, pengalaman global kedua tokoh ini dapat menjadi benchmark dan bahan pelajaran berharga bagi direksi muda lainnya.
“Jadi Bala dan Niel sudah dikasih pesan bahwa Anda tidak di sini selamanya. Tugas Anda, selain membantu transformasi Garuda, adalah men-coaching, men-develop talenta-talenta muda ini untuk bisa naik,” ujar Febriany.
Danantara menargetkan agar dalam waktu dekat, lahir pemimpin-pemimpin baru dari Group Garuda yang siap mengisi posisi strategis. Penunjukan ini murni berdasarkan perencanaan yang matang, bukan asal comot.
“Transformasi dimulai dari pemimpinnya,” tandas Febriany.

Sindiran ‘Garuda Way’ dan Kebutuhan Benchmark Global
Febriany secara jujur menyadari adanya satu gejala (symptoms) yang menjadi kelemahan dalam Garuda Group. Sebagian besar personel, terutama yang menduduki posisi puncak, menghabiskan seluruh karier mereka hanya di dalam Garuda.
“Satu symptoms yang kita lihat di dalam Garuda Group adalah sebagian besar seumur hidupnya hanya pernah bekerja di Garuda top. Jadi tidak ada benchmark bagaimana dunia di luarnya seperti apa. Hanya ada satu referensi, yaitu Garuda way,” tutur dia.
Ketiadaan benchmark global ini yang mendasari perombakan dewan direksi, dengan memasukkan elemen asing yang memiliki pengalaman internasional yang teruji.
Neil Mills: Sang Transformator 11 Maskapai Global
Danantara memilih kedua ekspatriat ini bukan tanpa alasan. Mereka memiliki kapasitas manajerial yang teruji di kancah aviasi global.
Secara spesifik, Febriany mengisahkan kapasitas Neil Raymond Mills, yang kini menjabat sebagai Direktur Transformasi Garuda Indonesia. Mills merupakan mantan bos Scandinavian Airlines dan sosok yang ahli dalam proses transformasi bisnis penerbangan.
“Kalau Neil, Chief Transformation Officer, dia sudah melanglangbuana di 11 maskapai secara global, dan memimpin transformasi penuh di tiga dari 11 maskapai itu,” bebernya.
Mills dinilai sebagai figur yang tepat karena telah berpengalaman. “Kita perlu orang yang sudah done that, seen that, been there. Sudah melihat begitu banyak jenis airline dengan segala tantangannya,” tutup Febriany.
Kehadiran Mills dan Balagopal diharapkan mampu melengkapi dan menaikkan standar kinerja maskapai BUMN ini.













