Spekulasi Serangan AS ke Iran: Trump Tebar Ancaman, Jalur Diplomasi Masih Buntu

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 19 Februari 2026 – 16:58 WIB

Pasukan Amerika Serikat (AS) telah bersiaga untuk kemungkinan penyerangan ke Iran mulai Sabtu lusa. (Foto: Special EurAsia)

Pasukan Amerika Serikat (AS) telah bersiaga untuk kemungkinan penyerangan ke Iran mulai Sabtu lusa. (Foto: Special EurAsia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tensi geopolitik di Timur Tengah kembali berada di titik didih. Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menyiagakan kekuatan militernya untuk kemungkinan melancarkan serangan udara ke wilayah Iran mulai Sabtu mendatang (21/2/2026). Laporan yang dirilis CBS News ini mengonfirmasi bahwa militer Paman Sam kini dalam posisi standby, menunggu komando terakhir dari Gedung Putih.

Meski mesin perang sudah dipanaskan, Presiden Donald Trump dilaporkan belum mengetuk palu keputusan akhir. Hingga saat ini, sang penghuni Gedung Putih masih menimbang-nimbang apakah serangan militer tersebut akan benar-benar dieksekusi atau sekadar menjadi gertakan politik tingkat tinggi.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Di tengah bayang-bayang dentuman meriam, jalur diplomasi sebenarnya masih diupayakan. Pada Selasa lalu (17/2/2026), delegasi AS yang dipimpin utusan khusus kepresidenan Steve Witkoff bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Jenewa. Pertemuan ini difokuskan pada masa depan program nuklir Iran yang terus memicu polemik global.

post-cover
Utusan khusus kepresidenan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Foto: Shutterstock)

Namun, harapan akan adanya titik temu tampaknya masih jauh panggang dari api. Trump secara terang-terangan memberikan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

“Khamenei seharusnya sangat khawatir,” tegas Trump pada 4 Februari lalu. Ia mengancam akan melakukan “hal-hal yang sangat buruk” jika Teheran tetap nekat melanjutkan pengayaan nuklir di fasilitas baru mereka.

‘Armada Besar’ Menuju Teheran

Trump, yang dikenal dengan retorika ‘tekanan maksimum’, menyebutkan bahwa sebuah ‘armada besar’ saat ini tengah bergerak menuju Iran. Strategi ini agaknya bertujuan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan guna menandatangani kesepakatan yang diklaim Trump sebagai kesepakatan yang ‘adil dan merata’.

Tuntutan Washington sangat jelas: penghentian total program senjata nuklir tanpa syarat. Jika kesepakatan ini gagal tercapai, Trump memperingatkan bahwa serangan militer yang akan dilancarkan AS bakal jauh lebih destruktif dan mematikan dibandingkan operasi-operasi militer sebelumnya.

Kini, dunia hanya bisa menunggu. Apakah diplomasi Jenewa mampu meredam amarah Washington, ataukah Sabtu besok akan menjadi awal dari konfrontasi terbuka yang mampu mengubah peta stabilitas global?