Pape Gueye dari Senegal mencetak gol pembuka (Foto: Amr Abdallah Dalsh/Reuters)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Timnas Senegal kembali menahbiskan diri sebagai raja sepak bola Afrika. The Lions of Teranga sukses mempertahankan gelar juara Piala Afrika (AFCON) 2025 setelah menundukkan tuan rumah Maroko dengan skor tipis 1-0 lewat laga super dramatis yang harus diselesaikan melalui perpanjangan waktu (extra time) di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1) dini hari WIB.
Kemenangan ini menjadi gelar kedua bagi Senegal, sekaligus menegaskan dominasi generasi emas Sadio Mane dan kawan-kawan di benua hitam. Sebaliknya, ini menjadi malam yang memilukan bagi Maroko yang gagal mengakhiri puasa gelar 50 tahun di hadapan publik sendiri.
Pahlawan Bernama Pape Gueye dan Edouard Mendy
Laga final ini menyajikan pertarungan taktik dan mental yang luar biasa. Setelah bermain imbang 0-0 selama 90 menit waktu normal, kebuntuan akhirnya pecah di babak tambahan.
Pada menit ke-103 (menit ke-3 babak pertama extra time), Pape Gueye menjadi pembeda. Gelandang bertenaga kuda itu melakukan aksi individu menawan, melewati pemain bertahan lawan sebelum melepaskan tembakan roket dari tepi kotak penalti ke pojok kanan atas gawang. Kiper Maroko, Yassine Bounou, hanya bisa terpaku melihat jala gawangnya bergetar. Skor 1-0 untuk Senegal.

Namun, drama sesungguhnya terjadi di menit ke-118. Maroko mendapatkan hadiah penalti setelah tinjauan VAR menyatakan adanya pelanggaran di kotak terlarang Senegal.
Brahim Diaz, bintang Real Madrid, maju sebagai eksekutor dengan beban satu negara di pundaknya. Sayang, tembakannya berhasil dibaca dengan sempurna oleh kiper Senegal, Edouard Mendy. Eks kiper Chelsea itu terbang ke arah yang tepat dan menepis bola, memastikan gawangnya tetap perawan hingga peluit panjang berbunyi.
Jalannya Pertandingan: Alot dan Penuh Tekanan
Bermain di kandang lawan yang penuh sesak, Senegal menunjukkan mentalitas juara sejati. Sejak kick-off, Maroko mencoba mengambil inisiatif serangan lewat sisi sayap yang dihuni Achraf Hakimi dan Abde Ezzalzouli.
Peluang emas Maroko sempat hadir lewat sundulan Nayef Aguerd yang menghantam mistar gawang di awal babak tambahan, serta upaya Youssef En-Nesyri yang melebar tipis. Namun, solidnya pertahanan Senegal yang dikoordinir Abdoulaye Seck (pengganti peran Kalidou Koulibaly) membuat frustrasi tuan rumah.
Senegal sendiri bermain sabar dan efektif. Sadio Mane menjadi motor serangan balik, sementara Ismaila Sarr memberikan ancaman konstan di babak kedua.
Tangis di Rabat, Pesta di Dakar
Peluit panjang wasit Jean-Jacques Ndala menjadi penanda pesta bagi Senegal dan duka bagi Maroko. Walid Regragui dan anak asuhnya tampak terpukul, sementara Aliou Cisse dan pasukannya merayakan keberhasilan mereka mempertahankan trofi paling bergengsi di Afrika.

“Bagi Senegal, kemenangan ini menegaskan era keemasan—berada di puncak sepak bola Afrika dan menulis bab sejarah baru dengan kedisiplinan, keyakinan, dan kekuatan kolektif,” tulis laporan resmi CAF.
Susunan Pemain Inti
Maroko (4-3-3): Bounou; Hakimi, Aguerd, Saiss, Mazraoui; Amrabat, Ounahi, Saibari; Ziyech, En-Nesyri, Adli (Brahim Diaz, Ezzalzouli masuk sebagai pengganti).
Senegal (4-3-3): Mendy; Diatta, Seck, Diallo, Jakobs; P. Sarr, P. Gueye, Camara; I. Sarr, Jackson, Mane.
Statistik Pertandingan
Skor: Senegal 1-0 Maroko (AET)
Pencetak Gol: Pape Gueye (103′)
Insiden Kunci: Penalti Brahim Diaz (Maroko) ditepis Edouard Mendy (118′)










