Semakin Tua Galon Guna Ulang, Potensi Cemaran Kimia Meningkat

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Jumat, 29 Mei 2026 – 14:33 WIB

Ilustrasi Galon Guna Ulang. (Dokumentasi: Inilah.com)

Ilustrasi Galon Guna Ulang. (Dokumentasi: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David M. L. Tobing, mengatakan galon guna ulang maksimal diisi ulang sebanyak 40 kali dalam jangka waktu kurang dari dua tahun. Jika melebihi batas tersebut, potensi cemaran kimia di dalam air galon disebut semakin meningkat.

David mencermati, galon guna ulang biasanya melewati berbagai proses, termasuk pencucian menggunakan zat-zat kimia. Menurutnya, proses tersebut berpotensi meluruhkan BPA (Bisphenol A), yakni zat kimia pada wadah plastik yang dapat mengganggu sistem endokrin apabila bercampur ke dalam air.

“Semakin tua usia galon, semakin beragam jenis keluhannya. Semakin dia sering diguna ulang, semakin sering dia dicuci. Semakin sering dicuci, semakin sering dia pakai zat-zat buat nyuci. Ada zat-zat apa di situ buat nyuci, tapi itu akhirnya bisa meluruhkan si BPA tadi. Dan itulah yang berbahaya,” kata David dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Jumat (29/5/2026).

David menilai peluruhan BPA di dalam galon guna ulang sangat berbahaya, terlebih proses distribusi galon di lapangan kerap terpapar sinar matahari secara langsung.

“Bahayakah BPA? Ya, tentu bahaya kalau memang dia itu luruh bercampur kepada airnya. Potensi-potensi luruhnya BPA ini bisa diakibatkan karena paparan sinar matahari, ya,” katanya.

“Ya, ini juga yang waktu itu saya soroti. Kalau kita lihat di jalan Jagorawi, ya, itu galon-galon kosong berangkat ke daerah Bogor semuanya pakai bak terbuka. Galon isi gimana? Pakai bak terbuka juga dari sana,” ujarnya.

Lebih lanjut, David menyebut potensi peluruhan BPA juga dapat terjadi meski proses pencucian dilakukan di pabrik.

“Di pabrik pun kalau itu melebihi 40 kali pencucian ini ada, ada akademisi yang melakukan penelitian itu udah berpotensi BPA-nya luruh. Jadi ada yang melaporkan kotor,” katanya.
 
Di sisi lain, investigasi yang dilakukan KKI tahun 2025 terhadap 60 toko kelontong di Jabodetabek menemukan distribusi peredaran galon guna ulang yang sudah di atas setahun berdasarkan wilayah yakni di Bogor sebanyak 54,6 persen, Jakarta (50 persen), Bekasi (40 persen), Tangerang (26,6 persen), dan Depok (14,3 persen).  
 
Hasil investigasi juga menemukan realitas fisik galon yang mengkhawatirkan antara lain 80 persen tampak buram atau kusam, 55 persen kondisi kotor atau berdebu, 33 persen segel rusak, 13,3 persen galon retak, dan 13,3 persen galon penyok.  

Berdasarkan temuan tersebut, KKI pun mendorong Pemerintah segera menutup kekosongan regulasi masa pakai untuk plastik guna ulang.  

“Negara berperan melalui regulasi pengawasan untuk melindungi konsumen yang posisinya lemah. Lemah karena tidak tahu cara produksi, tidak tahu karena adanya aturan, karena masalah ekonomi,” jelas David.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang