Selat Hormuz Ditutup, Rupiah Langsung Remuk

Iwan Medium.jpeg

Senin, 2 Maret 2026 – 21:58 WIB

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS ke posisi Rp16.755 pada penutupan hari ini, Selasa (3/2/2026). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS ke posisi Rp16.755 pada penutupan hari ini, Selasa (3/2/2026). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dampak perang Iran yang ‘dikeroyok’ zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) membuat mata uang rupiah terjungkal nyaris hingga ke dasar. Pascapenutupan Selat Hormuz yang menjadi lintasan kapal pembawa inyak alias tanker. 

Awal pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah melemah 0,48 persen yang setara Rp81 menjadi Rp16.868 per dolar AS. Sebelumnya, kurs rupiah menclok di level Rp16.787 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah besar kemungkinan dampak memanasnya geopolitik Timur Tengah (Timteng). Memicu kontraksi terhadap ekonomi Indonesia lewat kejutan harga energi dan gejolak pasar keuangan global, yang berpusat kepada risiko gangguan pasokan.

“Ketika tensi meningkat, perhatian pasar segera mengarah ke Selat Hormuz karena arus tanker dapat melambat bahkan tertahan, sementara pelayaran dan logistik ikut terganggu,” kata Josua, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Dalam eskalasi terbaru, lanjutnya, ada indikasi pengapalan minyak dan gas alam cair di Hormuz yang banyak tertahan, perusahaan pelayaran besar menghindari Teluk Persia, dan aktivitas pelabuhan utama sempat ditangguhkan, sehingga biaya angkut dan asuransi cenderung naik dan pasokan energi menjadi efektif lebih ketat.

Pada kondisi seperti ini, lanjutnya, kenaikan biaya asuransi dan pengalihan rute saja dinilai sudah cukup menambah dorongan inflasi energi global. Karena itu, harga minyak bisa melonjak tajam.

Misalnya minyak acuan sempat naik sekitar 13 persen hingga sekitar 82 dolar AS per barel meskipun saat ini berada di kisaran 76,4 dolar AS per barel, dan skenario penutupan penuh Hormuz diperkirakan bisa mendorong harga melampaui level 100 dolar AS per barel, yang berimplikasi kepada rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang tahun 2026 ini di kisaran 85 dolar AS per barel.

“Dampak ke rantai pasok global membesar karena Selat Hormuz adalah titik sempit yang dilalui perdagangan minyak dan gas alam cair. Guncangan kecil akan cepat merembet ke biaya logistik. Proyeksi tarif sewa tanker minyak berpotensi naik mendekati 300 ribu dolar AS per hari,” ungkap dia.

Melihat dari sisi pasar keuangan, perang disebut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga dolar AS cenderung menguat dan biaya pendanaan negara berkembang berisiko naik.

“Kombinasi dolar yang menguat dan harga energi yang naik membuat mata uang negara pengimpor energi lebih rentan tertekan, sementara arus modal lebih selektif dan premi risiko meningkat,” ucap Josua.