Ilustrasi – Pengunjung cermati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto/ama/aa).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pada perdagangan Senin (20/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 39,89 poin atau 0,52 persen ke level 7.594,11. Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.168 per dolar AS (US$).
Fenomena ini, menurut analis ekonomi dan politik Kusfiardi, menegaskan pola yang kian menguat: stabilitas nilai tukar dijaga ketat, sementara momentum pasar saham tertahan. Arus modal asing memang masuk, namun tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi pada instrumen berisiko rendah berbasis rupiah.
“Tren ini terkonfirmasi pada awal pekan, Senin (20/4/2026), ketika rupiah menguat di kisaran Rp17.170–Rp17.184 per dolar AS. Sementara itu, IHSG justru melemah 0,16 persen ke level 7.621 pada sesi I. Pergerakan berlawanan ini bukan anomali jangka pendek, melainkan refleksi perubahan preferensi investor,” papar Kusfiardi di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Sepanjang pekan lalu, kata dia, minat terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat signifikan. Permintaan lelang didominasi tenor 12 bulan dengan imbal hasil di kisaran 5,49–5,76 persen, bahkan mendekati 6 persen untuk tenor lebih panjang.
“Di tengah ketidakpastian global, tingkat imbal hasil tersebut menjadi magnet bagi investor asing yang mencari kepastian return,” imbuhnya.
Pasar obligasi, lanjut Kusfiardi, mencatat arus masuk dana asing, namun dengan dinamika yang belum sepenuhnya solid. Kenaikan imbal hasil pada tenor pendek dan menengah mengindikasikan masih adanya tekanan jual.
“Ini menandakan investor tetap selektif dan berhati-hati dalam mengelola eksposur risiko,” tandasnya.
Aliran dana tersebut memberi bantalan bagi rupiah. Namun, karena distribusinya sempit, penguatan mata uang tidak diikuti penguatan pasar saham.
“Likuiditas tidak mengalir ke aset berisiko seperti ekuitas, melainkan tertahan di instrumen dengan profil risiko rendah dan imbal hasil pasti,” ujarnya.
Di saat yang sama, sentimen global bergerak cepat dan cenderung negatif. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, memicu volatilitas harga minyak sekaligus memperkuat dolar AS. Dalam situasi ini, investor global cenderung menghindari risiko (risk-off) dan meningkatkan alokasi pada instrumen aman.
Kombinasi faktor tersebut, menurutnya, menciptakan fragmentasi yang semakin nyata di pasar keuangan domestik. Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memperkuat daya tarik SRBI, termasuk melalui peningkatan frekuensi lelang, terbukti efektif menahan tekanan terhadap rupiah.
“Namun pada saat yang sama, instrumen ini juga menyerap likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke pasar saham dan sektor riil,” kata Kusfiardi.
Implikasinya tidak sederhana. Imbal hasil yang relatif tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana serta mendorong perbankan lebih memilih menempatkan likuiditas pada instrumen moneter dibandingkan menyalurkannya ke kredit produktif. Dalam jangka menengah, kondisi ini dapat melemahkan transmisi pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, periode 13–20 April 2026 mencerminkan fase defensif pasar keuangan Indonesia. Stabilitas nilai tukar memang terjaga, tetapi dengan komposisi aliran modal yang semakin condong ke instrumen jangka pendek berisiko rendah.
Tantangan ke depan tidak hanya menjaga rupiah. Yang lebih krusial adalah memastikan likuiditas yang masuk tidak sekadar menjadi aksi “parkir dana”, melainkan dapat didorong ke aktivitas ekonomi produktif.
“Tanpa pergeseran tersebut, pasar berisiko terjebak dalam pola yang semakin terfragmentasi: terlihat stabil di permukaan, tetapi lemah dalam menopang pertumbuhan. Mudah-mudahan tidak demikian,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













