Rupiah Loyo, Menkeu Purbaya Siap Ambil Tindakan Lewat KSSK

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapannya untuk memperkuat koordinasi di bawah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah ini dibidik sebagai upaya strategis guna menjinakkan gejolak dan menstabilkan kembali nilai tukar rupiah yang belakangan ini terus mengalami tekanan.

Meski demikian, Bendahara Negara tersebut menegaskan bahwa pihaknya sejauh ini masih menghormati penuh langkah intervensi yang diambil oleh Bank Indonesia (BI). Bagaimanapun, BI merupakan otoritas utama yang memegang mandat penuh dalam menjaga stabilitas mata uang garuda.

“Itu kan yurisdiksi bank sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Kami lakukan rapat berkala secara normal saja. Tapi, kalau kami melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kami akan lakukan,” ujar Purbaya saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Langkah koordinasi ini dinilai kian krusial mengingat lambung rupiah kian mengkhawatirkan. Pada perdagangan Rabu sore, nilai tukar rupiah ditutup melemah cukup dalam, yakni merosot 127,5 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp17.966 per dolar Amerika Serikat (AS).

Korban Sentimen Negatif Pasar

Melihat tren kemerosotan ini, Purbaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor psikologis dan sentimen pasar yang bergerak liar, alih-alih mencerminkan kinerja riil perekonomian nasional yang sebenarnya masih kokoh.

Ia menengarai, ada banyak isu tak sedap dan spekulasi negatif yang sengaja diembuskan oleh para pelaku pasar. Salah satu rumor yang santer terdengar adalah kabar yang menyebutkan dirinya telah memerintahkan industri perbankan untuk melakukan simulasi ketahanan (stress test) jika rupiah jebol ke atas level Rp18.000 per dolar AS.

“Kalau kita lihat, kan tiba-tiba saja pelemahannya satu-dua hari ini, karena ada isu macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau Rp18.000 lebih, padahal saya tidak pernah (mengeluarkan) isu seperti itu. Jadi, banyak isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” urai Purbaya gamblang.

Fokus Jaga Fondasi Ekonomi Nasional

Alih-alih ikut panik dengan dinamika jangka pendek di pasar spot, Menkeu memilih untuk tetap fokus pada garis tugas utamanya. Purbaya menegaskan bakal berkonsentrasi penuh menjaga fundamental perekonomian domestik lewat berbagai intervensi kebijakan yang dapat memacu roda pertumbuhan ekonomi.

Purbaya memegang keyakinan kuat bahwa fondasi ekonomi yang kokoh dan sehat merupakan modal paling sahih sekaligus benteng utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

“Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Untuk saya fokusnya di situ,” cetus Menkeu dengan nada optimis.

Sinergi BI dan Pembatasan Beli Valas

Bak gayung bersambut, Bank Indonesia sendiri terpantau terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guna membendung pelemahan rupiah yang lebih dalam.

Sebagai senjata penjinak volatilitas, Bank Indonesia bahkan telah memberlakukan ketentuan baru per tanggal 2 Juni 2026 kemarin. BI kini memperketat batas aman (threshold) tunai pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.

Tak berhenti di situ, bank sentral juga terus tancap gas mendorong penggunaan mata uang lokal dalam setiap kerja sama bilateral melalui skema local currency transaction (LCT). Langkah taktis ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan akut pasar domestik terhadap dolar AS, sekaligus memitigasi risiko guncangan nilai tukar di masa depan.