Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp16.798 per dolar AS pada Kamis (8/1/2026). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap mata uan negeri Paman Sam yakni dolar AS (US$), diperkirakan melemah. Bakal menembus angka psikologis Rp17.000/US$ dampak dari memburuknya geopolitik.
Tak sedang bercanda, pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, kurs rupiah bisa semakin ‘ndelosor’ ke level psikologis itu. Analisa itu berkaca dari penutupan perdagangan Kamis (15/1), rupiah bertengger di level Rp16.896/US$.
Jika rupiah menguat, maka support pertama berada di level Rp16.876/US$, dan support kedua secara mingguan mencapai Rp16.840/US$. “Sebaliknya, jika (rupiah) melemah, resistance pertama di Rp16.920. Potensi pelemahan lanjutan secara mingguan di Rp17.100 per dolar AS,” kata Ibrahim, Minggu (18/1/2026).
Dia bilang, tekanan eksternal semakin kuat menghempaskan rupiah ke nilai tukar , Rp17.100/US$. “Ketidakpastian geopolitik, dinamika politik AS, serta arah kebijakan bank sentral global, berpotensi menekan rupiah. Muncul risiko pelemahan lanjutan hingga Rp17.500 per dolar AS di tahun ini,” terangnya.
Ibrahim menyebut sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah, misalnya, perang dagang global, kebijakan Uni Eropa memberlakukan bea masuk antidumping terhadap produk alumina China sebesar 88,7-110,6 persen. Langkah Uni Eropa ini aka dibalas China, dalam waktu dekat.
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, AS berencana mengenakan tarif impor 20 persen terhadap Eropa. Kondisi ini, menambah eskalasi perang dagang global. Faktor selanjutnya adalah ketegangan politik di AS meningkat seiring rencana pemanggilan Ketua The Fed, Jerome Powell. Terkait isu pembangunan bank sentral yang dinilai sarat kepentingan politik. Selain itu, pemanggilan sejumlah pejabat lain oleh otoritas AS berpotensi memperkeruh stabilitas politik AS.
Faktor lainnya, disebutkan Ibrahim, fokus ketegangan geopolitik berada di Timur Tengah dan Eropa. Di mana, konflik Rusia-Ukraina kembali memanas dengan intensitas serangan balasan yang meningkat. Selain itu, ketegangan terkait Greenland yang melibatkan negara-negara NATO, mulai mengerahkan pasukan.
Masih menurut Ibrahim, meski data tenaga kerja AS menunjukkan perbaikan, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, masih tetap terbuka. Sejumlah pejabat bank sentral AS menyatakan adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang akhir masa jabatan Jerome Powell.














