Memasuki bulan baru, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Saat pembukaan perdagangan Senin (6/7/2026), nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) melemah Rp17.993/US$. Menurut Bloomberg, pelemahannya 30 poin atau 0,17 persen ketimbang penutupan Jumat (3/7).
Sementara nilai tukar mata uang negara lain di Asia, terhadap dolar AS mengalami penguatan. Misalnya yen Jepang menguat 0,3 persen, dolar Singapura menguat 0,1 persen, hingga baht Thailand menguat 0,21 persen.
Terkait pelemahan rupiah, disinggung Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam podcast ‘Curhat Bang Denny Sumargo’, dikutip Senin (6/6/2026).
Purbaya menyebut, fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Bukan pemicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Diduga, pelemahan mata uang Garuda lantaran sentimen berlebihan dari pasar.
“Kalangan pengamat, mungkin enggak mengerti ekonomi, mereka bilang kita mau hancur. Di situlah angle di mana demo, masuk lagi. Tapi, kalau fundamental yang lain kan lumayan bagus,” kata Purbaya, dikutip Senin (6/7/2026).
Purbaya menilai, pemantik pelemahan rupiah lebih kepada ketidakoptimalan nilai tukar. Seolah Purbaya ingin menegaskan bahwa pelemahan rupiah sangat terkait sektor moneter. Sehingga bukan tanggung jawab Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tapi Bank Indonesia (BI).
“Tugas BI kan hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar. Jadi, bukan tugas saya. Jangan salahkan saya, kalau gitu. Dan, jangan ngotot ke saya, kalau gitu,” lanjut dia.
Purbaya mengakui kalau Kemenkeu dan BI, sama-sama masuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Serta dua lembaga lainnya yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Dalam pertemuan rutin KSSK yang digelar tiga bulan sekali untuk level pimpinan, sudah disepakati. Bahwa Kemenkeu dan BI bekerja dalam koridor masing-masing.
“Kalau diskusinya, sudah clear, mau diapain. Kan saya enggak bisa ikut campur. Enggak bisa (intervensi), BI kan independen. Kita percaya BI sudah cukup canggih untuk mengendalikan (nilai tukar) itu,” tegas Purbaya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













