PSI Sulit Wujudkan Jawa Tengah Jadi ‘Kandang Gajah’, Ini Alasannya

Diana Medium.jpeg

Selasa, 7 Juli 2026 – 05:15 WIB

Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat tiba untuk menghadiri Rakorda DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026). (Foto: Antara/ Ardiansyah)

Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat tiba untuk menghadiri Rakorda DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026). (Foto: Antara/ Ardiansyah)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai ambisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadikan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” tidak akan mudah terwujud.

Menurutnya, ada dua faktor utama yang membuat target tersebut sulit dicapai.

Alasan pertama berkaitan dengan perbedaan karakter pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jawa Tengah.

Jamiluddin menilai pengaruh Jokowi lebih bersifat personal, populis, dan banyak ditopang oleh kebijakan yang dirasakan langsung masyarakat, seperti bantuan sosial (bansos).

“Pengaruh Jokowi lebih personal, berbasis populis, dan berorientasi pada bantuan sosial (bansos). Pendekatan Jokowi ini lebih pragmatis dan dapat mendongkrak elektoral dalam waktu singkat. Namun pengaruh Jokowi itu tidak mengakar di masyarakat. Karena itu, pengaruh Jokowi akan cepat berubah bila popularitasnya meluntur dan masyarakat tidak mendapat bansos,” ujar Jamiluddin dalam keterangan yang diterima inilah.com, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, hubungan politik Jokowi dengan pemilih cenderung bersifat pragmatis. Dukungan masyarakat berpotensi berubah ketika mereka tidak lagi merasakan manfaat ekonomi atau politik yang dikaitkan dengan sosok Jokowi.

Sebaliknya, Jamiluddin menilai kekuatan Megawati bertumpu pada mesin ideologis dan kultur politik PDIP yang telah mengakar sejak era Orde Baru. Basis tersebut, kata dia, melahirkan pemilih tradisional yang memiliki loyalitas tinggi terhadap ajaran Bung Karno dan kepemimpinan Megawati.

“Pendekatan Megawati menciptakan hubungan yang kuat dengan massa pendukungnya. Hal itu menghasilkan pendukung militan terhadap Megawati. Para pendukung militan ini tak mudah berubah haluan. Slogan mereka, sekali mendukung Megawati, sampai mati tetap Megawati,” ungkapnya.

Berdasarkan perbedaan karakter dukungan tersebut, Jamiluddin menilai PSI akan menghadapi tantangan besar untuk mengubah status Jawa Tengah dari “kandang banteng” menjadi “kandang gajah”.

Alasan kedua, lanjut dia, terlihat dari hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2024. Di DPRD Provinsi Jawa Tengah, PSI hanya meraih dua kursi, sedangkan PDIP menguasai 33 kursi.

Menurut Jamiluddin, perolehan itu menunjukkan posisi PSI di Jawa Tengah masih sangat lemah. Padahal, pada Pileg 2024 PSI telah mengusung slogan “PSI Partainya Jokowi”, ketika Jokowi masih menjabat sebagai presiden dengan modal politik, ekonomi, dan sosial yang kuat.

“Jadi, dari perolehan kursi itu, jelas PSI akan sulit menjadikan Jateng sebagai kandangnya bila hanya mengandalkan Jokowi. Setidaknya perkiraan itu akan berlaku hingga Pileg 2029,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang