Anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio mencecar Gubernur BI Perry Warjiyo akibat kurs rupiah yang terpuruk hingga Rp17.700 per dolar AS. (Foto: Tangkapan layar YouTube TVR Parlemen)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, melayangkan kritik keras luar biasa kepada Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Primus secara terang-terangan mendesak orang nomor satu di bank sentral tersebut untuk meletakkan jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab atas terpuruknya nilai tukar rupiah.
Desakan bernada menohok itu disampaikan Primus dalam rapat kerja panas antara Komisi XI DPR RI dengan jajaran Bank Indonesia di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Langkah ini dipicu oleh posisi mata uang Garuda yang kian babak belur. Pada perdagangan Senin pagi, rupiah dibuka merosot ke angka Rp17.660 per dolar AS. Bahkan, melansir data TradingEconomic.com, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level psikologis baru yang mengkhawatirkan, yakni Rp17.700 per dolar AS.
“Pak Perry yang saya hormati, kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Mungkin sudah saatnya Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah, selanjutnya terserah Bapak tentu saja,” ujar Primus di hadapan jajaran petinggi BI.
Pertanyakan Kredibilitas Bank Indonesia
Mantan bintang sinetron yang populer lewat perannya sebagai ‘Panji Manusia Milenium’ era 1999–2001 ini menegaskan, langkah mundur di saat gagal menjaga stabilitas mata uang adalah potret budaya ksatria yang lumrah di negara maju.
“Anda akan lebih dihormati seperti di Korea dan Jepang jika tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik,” cecar legislator asal daerah pemilihan Jawa Barat tersebut.
Menurut Primus, ketidakmampuan bank sentral dalam menahan laju depresiasi rupiah kini telah merembet pada runtuhnya kepercayaan pasar. BI dinilai gagal meyakinkan investor global bahwa mereka mampu meredam gejolak eksternal.
“Menurut saya pribadi, Bank Indonesia telah menghilangkan kepercayaan. Bank Indonesia telah mengesampingkan kredibilitasnya,” tegas politikus PAN tersebut.
Anomali Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Lebih lanjut, Primus memaparkan adanya keanehan atau anomali besar yang terjadi pada struktur ekonomi makro nasional saat ini. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas kertas menunjukkan performa impresif dengan tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Namun, di sisi lain, nilai tukar rupiah justru ambruk hingga mencetak rekor terendah sepanjang sejarah.
Ironisnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi di hadapan dolar AS, melainkan keok massal jika diadu dengan mata uang negara-negara lain di dunia. Hal ini yang menurut Primus membuat kapabilitas BI kian dipertanyakan oleh pasar internasional.
“Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan. Di pertemuan terakhir saya tanyakan saat (rupiah) di Rp16.800 kenapa rupiah kita ini lemah. Dan ironisnya, melemah terhadap semua mata uang,” kata Primus berang.
Menutup cecarannya, Primus meminta Perry Warjiyo tidak sekadar berlindung di balik narasi sentimen global dan membiarkan rupiah terus terdepresiasi tanpa perlawanan yang berarti.
“Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya harus gentleman, harus berani melawan. Ada apa ini, kenapa ini?” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













